infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

[Sirah Sahabat] Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Rambutnya berantakan. Badannya kurus. Tulangnya kecil. Gesit dan sulit dilihat. Akan tetapi meski demikian, ia berhasil membunuh 100 orang musyrik dalam sekali perang, selain orang-orang yang berhasil dibunuhnya dalam perang-perang yang diikutinya bersama para pejuang.

la adalah orang yang gagah berani dan pantang mundur, demikian tulis Umar dalam sebuah surat yang ia tujukan untuk para pembantunya, “Janganlah ia ditunjuk sebagai pimpinan pasukan Muslimin, karena khawatir mereka semua terbunuh karena maju terus.”

Dialah Al-Barra’ bin Malik al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku paparkan semua kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik, pasti akan membutuhkan banyak ruang dan halaman; karenanya aku hanya akan menceritakan satu kisah saja dari kepahlawanannya yang dapat memberikan gambaran kepadamu tentang kisah kepahlawanannya yang lain.

Kisah ini dimulai saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan kembali ke pangkuan Tuhannya, saat beberapa Kabilah Arab keluar dari agama Allah secara berbondong-bondong, seperti saat mereka masuk ke agama tersebut secara berbondong-bondong. Sehingga yang tersisa hanyalah para penduduk Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kelompok di sana-sini yang Allah tetapkan hatinya untuk terus beriman.

wp-1674789568950Abu Bakar ash-Shiddiq tetap tegar menghadapi fitnah yang merebak ini. Ia tegar bagai gunung kokoh yang tak bergeming. Ia menyiapkan 11 pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau juga menyiapkan 11 panji yang masing-masing dibawa oleh panglima pasukan tadi. Ia mengutus ke sebelas pasukan tadi ke seluruh penjuru Arab untuk mengembalikan mereka yang murtad kepada jalan petunjuk dan kebenaran, dan untuk menggiring orang-orang yang sesat menuju jalan yang lurus lewat sabetan pedang.

Kaum murtad yang paling kuat dan banyak pasukannya adalah Bani Hanifah yang menjadi para pendukung Musailamah al-Kadzdzab. Saat itu Musailamah didukung oleh kaum dan sekutunya yang berjumlah 40 ribu orang pejuang. Kebanyakan dari mereka mendukungnya karena fanatisme dan bukannya karena beriman kepadanya. Sebagian dari mereka mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Musailamah adalah pembohong dan Muhammad adalah benar. Tetapi pembohong yang berasal dari suku Rabi’ah (Rabi’ah adalah sebuah kabilah besar di Arab yang menjadi leluhur Musailamah-red) lebih kami sukai daripada orang yang benar berasal dari Suku Mudhar (Mudhar adalah kabilah di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal).”

Musailamah berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan pertama kaum Muslimin yang dikirimkan kepadanya di bawah komando Ikrimah bin Abi Jahal.

Lalu Abu Bakar mengirimkan pasukan Muslimin kedua kepada Musailamah di bawah komando Khalid bin Walid dimana pasukan tersebut dipenuhi dengan para tokoh Anshar dan Muhajirin. Salah satu dari mereka adalah Al-Barra’ bin Malik al-Anshari, dan banyak lagi para patriot pemberani dari kaum Muslimin.

Kedua pasukan bertemu di daerah Al-Yamamah di Najd. Hanya sebentar saja, pasukan Musailamah dan pendukungnya terlihat unggul. Bumi yang dipijak oleh pasukan Muslimin terasa berguncang saat itu. Kaum Muslimin mulai bergerak mundur dan terjepit. Sehingga para pendukung Musailamah dapat menyusup ke tenda induk Khalid bin Walid. Mereka mencabut tali dan tiang tenda tersebut, bahkan mereka hampir saja membunuh istri Khalid kalau saja tidak ada seorang dari pasukan Muslimin yang melindunginya.

Ketika itu kaum Muslimin merasakan bahaya yang begitu besar. Mereka menyadari bahwa bila mereka sampai kalah oleh Musailamah maka Islam tidak akan berdiri tegak lagi dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah disembah lagi di Jazirah Arab.

Khalid langsung bangkit menuju pasukannya. Ia mulai mengatur kembali pasukannya. Ia mendahulukan kaum Muhajirin di pasukan depan dan Anshar di belakang. Dan ia menempatkan orang-orang badui di barisan tersebut.

Khalid juga mengumpulkan anak-anak yang berasal dari satu bapak dengan satu panji agar ia dapat mengetahui musibah yang menimpa setiap regu dalam peperangan ini, dan juga agar ia tahu dari sisi mana kaum Muslimin diserang.

Maka terjadilah perang di antara dua kubu yang begitu hebatnya. Kaum Muslimin belum pernah menjalani peperangan yang begitu dahsyat seperti ini sebelumnya. Kaum Musailamah telah berdiri dengan congkaknya di medan perang seolah mereka bagai gunung yang tak bergeming dan mereka seolah tidak peduli akan banyaknya korban yang mereka terima.

Kaum Muslimin saat itu didukung oleh para pahlawan yang bila dikumpulkan dalam tulisan maka akan menjadi sebuah kisah kepahlawanan yang amat menarik.

Terdapat di sana Tsabit bin Qais pembawa panji Al-Anshar yang telah menyiapkan peralatan kematian, kain kafan dan menggali sendiri kuburan untuk dirinya. Ia masuk ke dalam lubang yang digalinya tersebut sehingga mencapai separo dari betisnya. Ia berdiri tegap dalam posisinya itu. Ia berjuang mempertahankan panji kaumnya sehingga ia binasa dan menjadi syahid.

Ada lagi Zaid bin Khattab, saudara Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu yang menyeru pasukan Muslimin, “Wahai semua manusia, gigitlah kuat-kuat geraham kalian, seranglah musuh kalian dan terus maju pantang mundur! Wahai semua manusia, Demi Allah, aku tidak akan berkata apa pun lagi setelah ini sehingga Musailamah dapat dikalahkan atau hingga aku berjumpa Allah dan aku akan bersaksi di hadapannya.” Kemudian ia mulai menyerang musuh dan terus berperang sehingga mati syahid.

Ada juga Salim budak Abu Hudzaifah yang membawa panji kaum Muhajirin. Kaumnya khawatir akan kelemahan fisik dan rasa takut yang dimilikinya, sehingga kaumnya berkata kepada Salim, “Kami khawatir kita akan diserang dari arahmu.” Salim  menjawab, “Jika kalian diserang musuh dari arahku, maka seburuk-buruknya penjaga Al-Qur’an adalah aku.” Kemudian Salim menyerang para musuh Allah dengan begitu beraninya, sehingga ia mati syahid.

Akan tetapi semua pahlawan tadi masih kalah dibandingkan kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Hal itu karena saat Khalid melihat perang berkecamuk dengan begitu dahsyatnya, ia menoleh ke arah Al-Barra’ bin Malik sambil berkata, “Seranglah mereka, wahai pemuda Anshar!”

Maka Al-Barra’ pun melihat ke arah kaumnya dan berkata, “Wahai kaum Anshar, janganlah salah seorang pun di antara kalian berpikir untuk kembali ke Madinah; tidak ada lagi Madinah bagi kalian setelah hari ini, yang ada hanyalah Allah saja dan surga!”

Kemudian Al-Barra’ dan kaumnya membawa panji mereka untuk menyerang kaum musyrikin. Ia terus menyerang membuka barisan lawan. Ia menebaskan pedangnya di leher para musuh Allah sehingga Musailamah dan pendukungnya terjepit. Mereka mundur ke sebuah taman yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hadiqatul Maut (Taman Kematian) karena banyaknya korban yang mati di hari itu.

wp-1670064712375Hadiqatul Maut adalah sebuah bidang yang luas dan memiliki tembok yang tinggi. Musailamah dan ribuan tentaranya menutup gerbang-gerbang taman tersebut. Mereka semua berlindung dengan tembok-tembok tinggi yang ada di dalamnya, dan mereka menembakkan anak panah mereka dari dalam taman tersebut sehingga anak panah tersebut bagaikan hujan yang turun dengan deras bagi kaum Muslimin.

Saat itu majulah sang pejuang Islam yang gagah berani bernama AlBarra’ bin Malik sambil berseru, “Wahai kaumku, taruhlah aku di alat pelempar, dan arahkanlah ke arah para pemanah itu. Lemparkanlah aku ke dalam taman dekat gerbangnya. Karenanya, bila aku tidak mati syahid, maka aku akan membukakan gerbang taman untuk kalian.”

Dalam sekejap, Al-Barra’ bin Malik telah duduk di atas alat pelempar. Ia adalah seorang yang berbadan kurus. Maka para pejuang yang lain mengangkat dan melemparkannya ke dalam Hadiqatul Maut di antara ribuan pasukan Musailamah. Maka turunlah Al-Barra’ di pihak musuh seperti kilat menyambar. Ia terus menyerang mereka di depan gerbang taman dan ia berhasil membunuh 10 orang dari mereka dan berhasil membuka gerbang. Dan ia mengalami lebih dari 80 Iuka panah dan sabetan pedang karenanya.

Maka kaum Muslimin langsung merangsek ke arah Hadiqatul Maut dari seluruh penjuru pagar dan gerbangnya. Mereka menyabetkan pedang ke arah leher para kelompok murtad, sehingga tidak kurang dari 20 ribu dari pihak mereka menjadi korban termasuk Musailamah al-Kadzdzab.

Al-Barra’ bin Malik dibawa dengan kendaraannya untuk mendapatkan perawatan. Khalid bin Walid merawatnya selama sebulan penuh untuk menyembuhkan semua luka yang ada pada tubuh Al-Barra’ hingga akhirnya ia pun pulih kembali. Dengan keberanian Al-Barra’, pasukan Muslimin meraih kemenangan telak.

Al-Barra’ telah mengobarkan semangatnya untuk mendapatkan kesyahidan dalam peristiwa Hadiqatul Maut. Ia terus mengikuti perang demi perang karena ingin mewujudkan cita-citanya yang tertinggi itu dan karena rindu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga pada hari penaklukan Kota Tustar (Tustar adalah kota terbesar di Kazakhstan saat ini-red) di Negeri Persia.   Persia saat itu dibentengi dengan salah satu benteng yang terletak di dataran tinggi. Kaum Muslimin telah berhasil mengepung mereka dengan begitu ketatnya. Saat pengepungan tersebut berlangsung cukup lama dan pihak Persia sudah merasa semakin terjepit, maka mereka membuat rantai besi yang mereka ulurkan dari pagar benteng tersebut. Di ujung rantai digantungkan penjepit yang terbuat dari baja yang disulut api sehingga lebih panas dari batu bara. Penjepit itu berputar mengenai tubuh kaum muslimin dan mencomot tubuh mereka. Pasukan Persia mengangkat tubuh kaum Muslimin yang terkena jepitan tadi ke atas, baik dalam keadaan mati ataupun sekarat.

Para pasukan Persia yang bertugas menggunakan alat tersebut mengarahkannya kepada Anas bin Malik -saudara Al-Barra’ bin Malik-. Begitu melihatnya, Al-Barra’ langsung melompat ke arah tembok benteng dan meraih rantai yang telah mengambil tubuh saudaranya. Al-Barra’ berjuang keras untuk menggoncang penjepit tadi untuk mengeluarkan Anas dari dalamnya. Tangan Al-Barra’ jadi terbakar dan melepuh, ia tidak menghentikan usahanya sehingga saudaranya terbebas, dan ia pun jatuh setelah hanya tulang yang tersisa dari tangannya tanpa daging sedikit pun.

Dalam peperangan ini, Al-Barra’ bin Malik al-Anshari berdoa kepada Allah agar ia diberikan mati syahid. Dan Allah mengabulkan permohonannya. Al-Barra’ akhirnya mati sebagai seorang syahid yang amat rindu dengan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyinari wajah Al-Barra’ bin Malik di surga, dan membuat dirinya tenang dengan hidup bersama Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhainya dan ia ridha kepada Tuhannya.

Untuk dapat mengenal sosok Al-Barra’ bin Malik al-Anshari lebih jauh dapat merujuk ke:
1. Al-Ishabah: 1/143.
2. Al-Isti’ab dengan Hamisy al-Ishabah: 1/137.
3. Thabaqat al-Kubra: 3/441 dan 7/17, 121.
4. Tarikh ath-Thabari: (Lihat daftar isipada jilid ke-10).
5. Al-Kamilfi at-Tarikh: (Lihat daftar isi).
6. As-Sirah karya Ibnu Hisyam: (Lihat daftar isi).
7. Hayatush Shahabah (Lihat daftar isipada juz ke-4).
8. Qadah Fath Biladi Faris karya Mahmud Syit Khattab.

Wallahu a’lam

*** Rujukan: Sirah 65 Sahabat Rasulullah saw; Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya; 2016; halaman 56-62

kembali ke atas | indeks

2 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca