Pemprov Sumsel berencana mengembangkan pembangkit energi listrik biogas. Diharapkan, BBM untuk pembangkit listrik dapat dihemat. Asisten Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel Budi Raharjo menjelaskan, sumber energi pembangkit listrik tersebut rencananya akan diperoleh dari pengolahan biogas kotoran hewan ternak dari sentra-sentra peternakan di Provinsi Sumsel.
”Perencanaan ini masih akan dibahas lebih lanjut antara pihak pemprov, Dinas Peternakan, dan ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Kami memang belum punya target kapan realisasi pembangkit listrik biogas ini,tapi bukan berarti rencana ini tidak serius. Kami mengharapkan dan optimistis peran Sumsel sebagai lumbung energi nasional dapat terwujud,” katanya.
Menurut dia, saat ini penggunaan energi alternatif sangat mendesak akibat semakin tak terkendalinya harga BBM akhir-akhir ini. ”Sekarang kenaikan harga minyak mentah sudah membebani subsidi APBN. Jadi,lebih baik dari sekarang kita merencanakan penggunaan energi alternatif. Kalau tidak, perekonomian nasional dan Sumsel bisa ambruk,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, kata dia, pihaknya akan mengundang konsultan dari pihak profesional dan Menristek (Menteri Riset dan Teknologi) untuk mengembangkan proyek ini. Diharapkan, dengan adanya pembangkit listrik biogas ini, kebutuhan listrik Sumsel dapat tercukupi. Bahkan, Sumsel berpotensi untuk menyalurkan kelebihan pasokan listrik ke daerah lain.
”Kami sudah menjalin kerja sama dengan pihak Menristek. Alhamdulillah, Pak Kusmayanto sangat menyambut baik rencana pembangunan ini.Bahkan,dalam waktu dekat ini, staf Menristek akan datang langsung ke sini (Sumsel) untuk mengkaji proyek ini lebih jauh,” katanya.
Dia menambahkan, pihaknya yakin potensi Sumsel dapat digunakan untuk mengembangkan pembangkit energi listrik biogas ini. ”Di Sumsel ini banyak sentra peternakan, terutama sapi. Dari pada kotorannya terbuang percuma dan jadi limbah, kan lebih baik dimanfaatkan. Untuk itu, dalam waktu dekat akan dikaji data dan spesifikasi teknis yang diperlukan untuk pengembangan proyek ini,” katanya.
Sementara itu, menurut data Dinas Peternakan Sumsel hingga akhir 2007, populasi hewan ternak di Sumsel mencapai 1.098.958 ekor, yang terdiri dari sapi, kerbau, kambing, domba, dan kuda. Populasi terbanyak adalah hewan ternak sapi dengan jumlah 451.102 ekor. Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumsel Hasjal Fauzi mengatakan, pihaknya akan terus meningkatkan jumlah populasi hewan ternak, terutama sapi.
”Peternakan di Provinsi Sumsel sudah cukup baik, hanya saja populasinya masih kurang,” katanya. Untuk itu, Dinas Pertanian Provinsi Sumsel akan terus mengembangkan program inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik sapi sebanyak 2.000 per tahun. (CR-16/berli zulkanedi/SINDO)











![[2026] Proyek Perluasan dan Pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2018/07/logoagplg.jpg)









Tinggalkan Balasan