Masyarakat Sumsel dinilai belum memiliki budaya hemat energi. Hal itu berpengaruh buruk terhadap langkah pemerintah dan upaya untuk menghemat energi.
”Terus terang saja, masyarakat kita belum membudayakan hemat energi. Padahal, kondisi sumber daya alam kita tinggal sedikit,”kata budayawan Palembang Ismail Djalili dalam acara diskusi kampanye hemat energi yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akhwalu Syasiah Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang di ruang auditorium,kemarin. Menurut dia, masyarakat perlu diimbau agar menyadari pentingnya menghemat pemakaian energi. Selain itu, berupaya mengubah pola sikap agar tidak sia-sia membuang energi. Hal tersebut,kata Ismail, harus dimulai dari PLN dan pemerintah serta masyarakat Palembang secara keseluruhan.
Dia mencontohkan, dalam penggunaan energi,masyarakat sering ”terjebak” ketika muncul teknologi baru. Seperti kebiasaan masyarakat menggunakan lampu pijar dan TL, kemudian muncul teknologi lampu neon yang lebih hemat listrik. ”Nyatanya, masyarakat masih banyak menggunakan lampu pijar, padahal mereka sudah tahu kalau lampu jenis neon lebih hemat listrik,” jelas dia. Selain itu, kata Ismail, pemerintah dan masyarakat harus satu persepsi untuk melakukan pengkajian dan penelitian serta eksplorasi energi bumi dan air yang masih mungkin digali.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT PLN Persero Tbk Harry Jaya Pahlawan mengatakan, kondisi energi di Sumsel, khususnya listrik perlu upaya penghematan dari semua pihak, karena energi sumber pembangkit listrik mulai berkurang. Menurut dia, keberadaan minyak dan gas di Indonesia yang masih tersisa hanya tinggal 50 tahun lagi. Batubara sekitar 150 tahun.Untuk Sumsel, batubara diperkirakan 22,24 miliar ton dari deposit 58 miliar ton potensial nasional. Sementara, untuk daerah Sumsel kurang lebih tinggal 40%. (muhammad uzair/koran SINDO)


















Tinggalkan Balasan