Tiap Ramadhan, denyut kehidupan warga menjadi lebih kentara keislamannya. Tayangan-tayangan televisi selama Ramadhan juga mempengaruhi pencapaian umat Islam dalam berjuang menuju pribadi muslim yang lebih baik. Tetapi, pelaku industri televisi tak memandang Ramadhan sepenting itu.
Menurut DR Sunarto, Dosen pasca-sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi UI, pengelola televisi memosisikan Ramadhan layaknya sebuah komoditas. Ini terkait dengan status lembaga penyiaran sebagai entitas ekonomi. Unsur Islami ditempatkan sebagai kemasan semata. Soal isi tayangan, semua berpulang pada apa yang paling menjual.
Mengevaluasi tayangan Ramadhan, Fetty Fajriaty Miftah merasa gusar. Mantan produser dan penyiar RCTI yang kini menjabat sebagai wakil ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) itu sebal menyaksikan lelucon dan komentar cabul di acara peneman sahur maupun berbuka puasa. Dari hasil pemantauan KPI, tahun lalu, ada 50 judul sinetron yang mengambil tema mistis dan kekerasan dan ditujukan sebagai penyemarak Ramadhan.
Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Prof Dr Ir Moch Nuh DEA lantang menentang tayangan yang memberi dampak buruk pada kehidupan masyarakat. Sikapnya itu didasari pemikiran bahwa siaran televisi memiliki kemampuan mempengaruhi moral anak bangsa. “Kalau tidak bisa membantu membentuk akhlak mulia, matikan saja siaran tevenya,” tegas Nuh.
Tayangan yang sepantasnya menghiasi layar kaca untuk menyemarakkan Ramadhan, menurut Titie Said selaku ketua Lembaga Sensor Film, adalah kategori semua umur. Tayangannya harus bisa ditonton anak-anak. Sebab, selama bulan puasa, jam nonton anak bergeser ke pukul 22.00 WIB dan 03.00 WIB yang biasanya diisi siaran kategori dewasa. “Ini berlaku untuk sinetron, film, dan juga iklan,” katanya.
Kritik terhadap Tayangan Televisi
- Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono memandang, ”Sinetron dan film tayangan televisi tidak mencerdaskan kaum perempuan. Sebaliknya, justru mengajarkan kejudesan dan kejahatan.”
- Pakar Ilmu Komunikasi, Effendi Gazali, ”Untuk mengubah tayangan televisi yang cenderung membodohi itu ke siaran yang lebih mencerdaskan bangsa, tidak bisa diserahkan hanya kepada pemilik modal. Harus ada tekanan massif dari publik.”
Pengaduan Masyarakat ke MUI
- Acara lawak Ramadhan cenderung mengumbar dialog porno. Pemainnya pun berpakaian tak senonoh.
- Presenter dan pemain sinetron yang beragama selain Islam melakukan peran sebagai muslimat pada acara Ramadhan.
- Memfungsikan orang yang tidak kompeten untuk menjawab atau memberi petunjuk mengenai hal-hal yang merupakan porsi ulama ahli hukum Islam.
Mudah-mudah kita diberi kekuatan untuk menjaga puasa kita dari hal-hal yang membatalkan dan merusak hakekat puasa kita. [republika/infokito]









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan