Mahkota bukan sekedar hiasan kepala yang dikenakan oleh raja, ratu ataupun dewa. Mahkota ialah simbol kemasyhuran penguasa, kekuasaan legitimasi, keabadian, kemakmuran, serta kehidupan setelah kematian. Penyerahan Mahkota Sultan Siak Sri Indrapura di tahun 1945 kepada pemerintah Republik Indonesia menunjukkan tekad, komitmen dan dukungan Kesultanan Siak Sri Indrapura menyatukan diri dengan Republik Indonesia saat itu.

Mahkota Siak memiliki berat 1.803,3 gram serta berdiameter 33 cm dan tingginya 27 cm dengan berbahan emas, berlian dan rubi. Regalia yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia memiliki bentuk yang indah dan artistik dengan motif filigree atau kerawang.
Pembuatan motif ini biasanya untuk perhiasan dan produk seni dengan menggunakan benang logam atau kawat halus (emas, perak, atau tembaga) yang dipelintir, dianyam, dibentuk, dan disatukan dengan patri menjadi sebuah bentuk tertentu. Kerawang atau filigree dibuat secara manual dan membutuhkan keterampilan sehingga menghasilkan hasil yang unik, personal, juga bernilai tinggi. Motif kerawang atau filigree di Indonesia memiliki detail bentuk kawat yang berputar dan melengkung serta repetitif.
Sultan Syarif Kasim II sebagai pemimpin dari Kesultanan Siak Sri Indrapura sejak 1915 tidak hanya menyerahkan mahkotanya sebagai pernyataan meleburnya kesultanan tersebut pada Republik Indonesia. Hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, termasuk istana, diserahkan sebelum dirinya mengungsi ke Aceh lantaran adanya ancaman dari Belanda dan Sekutu kepada Sultan Syarif Kasim II akibat dirinya dan tokoh-tokoh Riau berikrar untuk mempertahankan kemerdekaan RI dalam rapat umum pembentukan badan-badan perjuangan pada Oktober 1945. Tertanggal 28 November 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram kepada Presiden Sukarno terkait kesediaannya dalam mendukung Republik Indonesia dengan memberikan uang sebesar 13 juta gulden.
Mahkota sang sultan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya berperingkat Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 248/M/2013 pada tanggal 27 Desember 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Ujang Mulyadi | Museum Nasional Indonesia
Referensi:
- Satari, Soejatmi (ed.). 2009. Treasures of Sumatra. Jakarta: Museum Nasional.
- Yussubrata, Desse (ed.). 2018. Khasanah Cagar Budaya Indonesia. Album Cagar Budaya Nasional I (2013-2016). Jakarta: Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- https://tirto.id/ketika-sultan-siak-menyerahkan-seluruh-hartanya-untuk-republik-cB4p (diakses 5 Mei 2021)
- Tandiono, Evelyn & Ingrid Dianita Indah. 2019. ‘Inovasi Penggabungan Teknik Filigree dan Enamel dalam Perancangan Perhiasan Buatan Tangan untuk Menunjukkan Status’ dalam Prosiding Seminar Nasional Desain Sosial 2019 hlm. 32-36.
***Disadur dari sebuah tulisan Ujang Mulyadi di laman Museum Nasional Indonesia
Siak Sri Indrapura merupakan kota bersejarah di tepi sungai yang terletak di Provinsi Riau, Sumatra bagian timur, dan sejak lama dikenal sebagai pusat politik dan kebudayaan Kesultanan Siak. Kota ini berada di sepanjang aliran Sungai Siak yang lebar, dan menampilkan perpaduan antara warisan kerajaan Melayu, jejak kolonial, serta kehidupan masyarakat yang masih sangat bergantung pada sungai. Hingga kini, Siak tetap menjadi salah satu destinasi warisan sejarah penting di Sumatra, terutama bagi pengunjung yang ingin memahami sejarah di luar pusat-pusat perkotaan besar. (lintangsumatra.com)
Sejarah Siak Sri Indrapura berkaitan erat dengan berdirinya Kesultanan Siak Sri Indrapura pada awal abad ke-18. Kesultanan ini didirikan pada tahun 1723 oleh Raja Kecil dan berkembang menjadi kerajaan Melayu yang berpengaruh, dengan kendali atas jalur perdagangan di sepanjang Sungai Siak serta wilayah luas di Sumatra bagian timur. Lokasinya yang berada di pedalaman namun terhubung langsung dengan jalur sungai menjadikan Siak sebagai pusat pemerintahan sekaligus simpul perdagangan regional. Pada masa berikutnya, kehadiran kolonial Belanda menambah unsur administrasi dan militer, yang peninggalannya masih dapat dikenali hingga saat ini. (lintangsumatra.com)

Istana Siak Sri Indrapura, terletak di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia, adalah salah satu peninggalan sejarah yang kaya akan budaya dan warisan Kerajaan Melayu. Istana ini tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Siak di masa lalu, tetapi juga menyimpan berbagai cerita dan misteri yang hingga kini masih menarik perhatian banyak orang.
Istana Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1889 oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, sultan ke-11 dari Kerajaan Siak. Istana ini merupakan pusat pemerintahan dan kediaman resmi keluarga kerajaan. Arsitekturnya yang megah dan elegan mencerminkan perpaduan antara gaya Melayu, Arab, dan Eropa, menunjukkan betapa luasnya jaringan diplomatik dan budaya Kerajaan Siak pada masanya. (jurnalpost.com)
Kesultanan Siak secara formal mengakhiri kekuasaannya dan mengintegrasikan diri ke dalam struktur negara kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1946. Pengakhiran yang sukarela ini melalui Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu tonggak utama dalam penyatuan Nusantara di bawah panji Republik. (labuhanbatu.com)











![[2026] Proyek Perluasan dan Pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2018/07/logoagplg.jpg)









Tinggalkan Balasan