Kenaikan inflasi di Kota Palembang pada April 2008 menembus angka 2,38%. Inflasi Palembang tersebut memecahkan rekor tertinggi nasional dibandingkan 44 kota lain di Indonesia. Pemicunya tidak lain karena kenaikan harga minyak tanah dan beras yang menyumbang inflasi masingmasing 1,3% dan 0,14%.
”Perubahan harga yang paling mencolok dialami komoditi minyak tanah dengan sumbangan sebesar 43,6%. Fenomena ini terjadi sejak minggu keempat Maret. Salah satu faktornya adalah program konversi minyak tanah ke gas yang menyebabkan pasokan mitan berkurang,” ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi Nazaruddin Latief, Kamis lalu.
Menurut Nazaruddin, perubahan kenaikan harga minyak tanah sebenarnya sudah terjadi sejak minggu keempat Maret 2008. Saat itu, minyak tanah masih dijual Rp3.300– Rp3.700 per liter. Kenaikan itu terus berlanjut hingga awal April dengan perubahan kenaikan mencapai 42% menjadi Rp5.000 per liter.
Bobot minyak tanah yang cukup besar dalam menyumbang inflasi, menyebabkan kenaikan inflasi Palembang sebesar 0,55% dari Maret menjadi tidak terelakkan. Sebelumnya, Nazaruddin juga sudah memprediksi hal ini. Berdasarkan data dari empat pasar yang di pantau BPS, keberadaan mitan sangat sulit ditemui, kalau pun ada, harganya tergolong tinggi.
Terlebih hingga Maret kemarin, separuh kecamatan di Kota Palembang sudah terkonversi 100%. Kenaikan harga ini akhirnya memicu pergerakan harga Indeks Konsumen yang mengalami kenaikan dari 175,54 pada Maret menjadi 179,71 pada April 2008. Selain itu,kenaikan harga beras kualitas rendah hingga medium rata-rata sebesar 2,5% juga menjadi penyumbang kedua kenaikan inflasi Palembang pada April sebesar 0,14%.
”Kenaikan untuk beras terjadi karena musim panen sudah berakhir. Sebelumnya, pada Februari–Maret, perubahan harga beras justru deflasi karena musim panen. Dengan kenaikan ini, Bulog bisa saja melakukan operasi pasar,” terangnya.
Tingkat inflasi yang tinggi ini, lanjut Nazarudin, akhirnya membuat inflasi kumulatif Palembang sejak Januari– April menjadi 5,56% atau jauh meninggalkan inflasi kumulatif nasional yang hanya 4,01%. Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya Didiek Susetyo menilai, kenaikan minyak tanah sebagai pemicu inflasi tertinggi terjadi karena pemerintah tidak mendukung program konversi.
Menurut Didiek, seharusnya pelaksanaan program konversi itu diimbangi dengan skema distribusi yang tepat. ”Sejauh ini, pemerintah menyerahkan program ini langsung ke dealer dan masyarakat, sehingga kemungkinan permainan harga bisa terjadi. Sangat disayangkan mengapa pemerintah tidak melakukan operasi pasar. Bahkan ini diperparah dengan infrastruktur yang rusak sehingga menghambat distribusi,”jelas dia.
Harusnya, lanjut Didiek, pemerintah membenahi tiga masalah di atas. Dengan akumulatif inflasi 5,56% pada caturwulan I/2008, kemungkinan inflasi akhir tahun mendekati angka dua digit sangat mungkin terjadi. (komalasari/SINDO)


















Tinggalkan Balasan