Angka inflasi Sumatera Selatan yang tercermin dari angka inflasi di Palembang terus meningkat dari tahun ke tahun yang selalu di atas angka inflasi nasional. Tingginya inflasi menyebabkan perekonomian masyarakat stagnan dan investor enggan menanamkan modal di daerah ini.
Ketua Panitia Focus Group Discussion Inflasi di Sumsel dari Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), Syaipan Djambak, Senin (24/12), mengatakan, tingginya inflasi menyebabkan peningkatan pendapatan masyarakat tidak ada artinya. Angka inflasi Sumsel selalu di atas angka inflasi nasional yang mencapai 5-6 persen.
“Harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan karet naik, tetapi inflasi juga tinggi. Jadi pendapatan masyarakat sebenarnya tetap, bahkan turun,” ujar Syaipan.
Syaipan mengungkapkan, Fakultas Ekonomi Unsri bekerja sama dengan Bank Indonesia Palembang menyelenggarakan Focus Group Discussion mengenai tingginya inflasi di Sumsel hari Kamis (27/12). Focus Group Discussion itu akan membahas penyebab dan cara mengatasi tingginya inflasi di Sumsel. Tujuan Focus Group Discussion itu adalah membentuk tim pengendali inflasi.
Syaipan menyampaikan hipotesa penyebab tingginya inflasi di Sumsel adalah pola konsumsi atau marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Sumsel yang tinggi. “Sampai sekarang belum diketahui berapa angka MPC di Sumsel, tetapi ada kemungkinan tinggi. Jangan-jangan mencapai 60 persen atau lebih, artinya 60 persen pendapatan masyarakat dipakai untuk konsumsi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Syaipan mengatakan, hipotesa mengenai penyebab tingginya inflasi di Sumsel adalah mahalnya biaya distribusi barang dari dalam Sumsel maupun dari luar Sumsel.
“Mengapa harga beras di sejumlah daerah penghasil beras mahal ketika sedang panen? Penyebabnya adalah mahalnya biaya distribusi. Surplus beras dari Sumsel justru dinikmati Lampung karena kita tidak bisa mengontrol distribusi hasil panen,” ujar Syaipan.
Menurut Syaipan, tingginya inflasi di Sumsel termasuk dipengaruhi tingginya ekspektasi masyarakat. Misalnya menjelang hari raya Lebaran harga cenderung naik, namun masyarakat sudah memiliki ekspektasi bahwa harga akan naik menjelang hari raya tersebut sehingga sudah berbelanja jauh hari sebelumnya.
Bagi kalangan investor, inflasi menjadi indikator yang menentukan apakah jadi menanam investasi atau tidak. Penyebabnya, inflasi berarti biaya bagi investor sehingga mereka akan enggan datang ke daerah ini untuk berinvestasi. (WAD/kompas)


















Tinggalkan Balasan