Program lima tahun pemerintah untuk peremajaan karet tua hanya mencapai angka 60% dari target 10.000 hektare. Hal itu disebabkan ketiadaan dana. Padahal, saat ini peningkatan produksi karet terus dilakukan. Namun, kegiatan tersebut juga terkendala luas lahan dan usia tanaman karet yang menua dan tidak produktif lagi.
“Saat ini tanaman karet rakyat yang sudah tua kita lakukan peremajaan. Hal ini sesuai permintaan para petani di desa-desa. Jadi, walaupun perluasan lahan tidak bisa dilakukan lagi, dipastikan setelah peremajaan dilakukan warga dapat terbantu secara perekonomian,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Kab Banyuasin Ali Imron.
Ketidaktersediaan lahan di Kab Banyuasin itu karena sebagian besar daerah Banyuasin memiliki tipikal lahan basah dan rawa-rawa. Sedangkan, pada umumnya karet hidup di lahan kering. Namun, ada beberapa daerah rawa yang dahulunya memiliki lahan tipe basah sudah mulai diberdayakan untuk penanaman karet. Sebab, tanah tersebut sudah berubah menjadi lahan basah kering atau lahan kering. Tanah tersebut sudah tidak terendam air, seperti di kawasan Air Sugihan. Hanya saja, persentasenya kecil jika dibandingkan dengan persediaan lahan kering untuk karet yang sudah habis.
“Memang ada beberapa daerah basah yang sudah bisa ditanami karet,seperti lahan di daerah kawasan Air Sugihan, dulu kan basah, sekarang sudah bisa ditanami karena air sudah tidak merendam tanaman lagi. Tapi, kalau untuk lahan kering kita sudah tidak lagi memiliki lahan untuk perluasan perkebunan karet,” katanya.
Sebab itu, untuk terus meningkatkan produktivitas karet rakyat, maka pemerintah kabupaten melakukan peningkatan kuantitas produksi melalui program peremajaan karet jangka kerja lima tahun.
Program tersebut berjalan sejak 2003 dengan target peremajaan 10.000 hektare kebun karet tua. Sebab, dari 84.000hektarekebunkaretrakyat, sebanyak 10% adalah kebun karet tua yang produksinya sudah tidak maksimal lagi dan harus segera diremajakan.
“Kita punya target peremajaan karet selama lima tahun sebanyak 10 hektare karena 10% dari lahan karet rakyat kita sudah tua dan harus segera diremajakan. Tapi, kita juga tetap melihat kebutuhan masyarakat. Artinya, peremajaan karet tersebut sebenarnya juga atas usulan dan permintaan dari petani karet kita,” katanya.
Ali mengakui proses peremajaan karet di Kab Banyuasin pun tidak berjalan sesuai harapan karena terkendala dana. Akibatnya, dari target 10.000 hektare selama jangka waktu lima tahun sejak 2003, Banyuasin hanya baru menyelesaikan pekerjaan rumah itu sebesar 60%. Tentu saja angka tersebut cukup minim jika dibandingkan target yang ingin dicapai.
Apalagi, ribuan perkebunan rakyat tersebut menjadi penopang produksi karet Banyuasin. Bupati Amiruddin Inoed mengatakan, program peremajaan karet di Banyuasin terus dilakukan peningkatan per tahunnya. Hal ini bisa dilihat dari data luas peremajaan dengan memberikan bibit unggul sepanjang lima tahun terakhir. Pada 2003, Banyuasin memberikan bantuan bibit untuk peremajaan seluas 400 hektare, pada 2004 program bantuan bibit untuk peremajaan juga seluas 400 hektare.
Pada 2005, bantuan peremajaan karet rakyat sebesar 486 hektare, sedangkan pada 2006 bantuan naik menjadi 917 hektare. Pada tahun yang sama juga ditambah lagi melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar 600 hektare. Pada 2007, peremajaan dilakukan dengan jumlah bantuan bibit seluas 926 hektare, sementara untuk 2008, bantuan meningkat menjadi 1.330 hektare. Angka tersebut masih ditambah lagi sebesar 300 hektare bantuan dari provinsi.
“Kita targetkan pada 2010 program peremajaan karet rakyat yang sudah tua bisa terselesaikan. Ya, kita hanya mampu paling tidak 2.000 hektare per tahunnya. Jadi, dengan anggaran yang minim, pemerintah juga masih harus membagi dengan sektor lainnya, terutama pembangunan infrastruktur,” tegas Bupati. (yopie cipta raharja/SINDO)


















Tinggalkan Balasan