Lebih dari 23 tahun warga di 20 desa di Kec Muara Sugihan Kab Banyuasin hidup terisolasi. Masyarakat belum menikmati kue manis pembangunan. Jangankan menikmati kemewahan, untuk merasakan penerangan listrik dan air bersih pun jauh panggang dari api. Bahkan, masyarakat terpaksa menggunakan air payau untuk kehidupan sehari-hari dan lampu teplok di kala malam tiba.Bahri Tohir, Kepala Desa Beringin Agung Kec Muara Sugihan mengatakan, sejak menjadi salah seorang transmigrasi pada 23 tahun yang lalu, dia tidak pernah merasakan listrik dan air bersih di desa yang sekarang dipimpinnya.
Sebagai warga datangan, dia dan masyarakatnya hanya bisa menerima hidup apa adanya. ”Sejak tahun 1980-an, saya dan warga di sini tidak pernah merasakan kehidupan merdeka. Walau pada kenyataannya, bangsa ini sudah merdeka. Tidak pernah ada terang benderang di desa-desa kami ini. Kalau menjelang maghrib, pasti keadaan desa sangat gelap. Untuk satu malam, saya bisa menghabiskan bensin sebanyak 10 liter. Bayangkan saja berapa rupiah yang harus kami keluarkan setiap bulan. Itu yang saya alami. Apalagi, yang dialami warga saya, sedangkan penghasilan mereka hanya dari menanam padi, ” kata Bahri.
Selanjutnya, kata Bahri, sebagai seorang kades, dia pernah beberapa kali mengajukan permintaan listrik kepada pemerintah setempat. Namun, permohonan tersebut sepertinya tidak pernah diperhatikan. Akibatnya, masyarakat setempat hanya tinggal menunggu niat baik dari dewan maupun Pemkab Banyuasin. ”Kecamatan kami ini adalah pemekaran dari Muara Padang. Kalau kecamatan lama kabarnya sudah dialiri listrik walau baru beberapa desa. Sedangkan desa kami belum,entah apa alasan pemerintah kenapa desa di Muara Sugihan ini belum dialiri listrik,” keluh Bahri, yang berprofesi sebagai petani.
Hal serupa dikatakan Aspani, 40, warga Desa Tirta Mulya. Dia mengatakan bukan hanya listrik yang diharapkan warga setempat, tapi juga air bersih. Karena, selama bertahun-tahun masyarakat hanya mengonsumsi air sungai yang rasanya payau. Akibatnya tidak sedikit masyarakat yang sering mengalami diare dan muntaber.
”Kalau untuk minum, biasanya beli dengan pengemudi speed boad. Karena mereka biasanya bawa galon minuman ke Palembang dan dibawa kembali ke desa untuk dijual ke rumah-rumah penduduk. Sedangkan untuk kebutuhan sehari- hari, seperti mencuci, mandi, dan lain sebagainya hanya menggunakan air sungai yang rasanya sangat payau,” ujarnya lirih. Anggota DPRD Banyuasin Andriyadi mengaku sangat miris melihat kondisi masyarakat Kec Muara Sugihan.
Karena, menurut dia, Sumsel yang katanya lumbung energi, justru masih ada masyarakatnya yang belum tersentuh sama sekali dengan listrik. ”Secara pribadi saya malu, karena Sumsel adalah lumbung energi nasional. Namun, kenyataan yang ada, puluhan tahun mereka (masyarakat) tidak pernah merasakan terang benderang. Sedangkan kalau kita lihat di kota-kota besar seperti Palembang, berapa banyak aliran listrik yang dipakai pada malam hari. Puluhan ribu watt, mungkin jutaan ribuan watt,” kata Andriyadi, yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) III meliputi Kec Muara Padang, Muara Sugihan, Air Salek dan Makarti Jaya. Ke depan, dia berharap, baik kepada Pemprov maupun Pemkab Banyuasin, untuk memberikan bantuan berupa listrik masuk desa. (jemi astuti/sindo)











![[2026] Proyek Perluasan dan Pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2018/07/logoagplg.jpg)









Tinggalkan Balasan