Hujan deras yang mengguyur Kab. Musi Banyuasin dalam sepekan terakhir menyebabkan sebagian wilayah ini dilanda banjir. Sedikitnya ratusan rumah warga terendam. Ketinggian air mencapai 1–1,5 meter. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini,namun kerugian materi ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Di mana puluhan hewan ternak seperti sapi, kambing, unggas, dan budi daya ikan milik warga hanyut dibawa air bah. Menurut warga sekitar,musibah banjir kali ini terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.
Ratusan rumah warga yang terendam tersebar di enam desa yakni Desa Rantau Sialang, Kerta Jaya, Jirak, Gajah Mati, Tebing Bulang, dan Kertayu, Kec. Sungai Keruh, Kab. Musi Banyuasin. Jumlah kepala keluarga di enam desa ini sekitar 1.000 jiwa. Kondisi terparah dialami Desa Kerta Jaya dan Tebing Bulang, sekitar 350 rumah terendam banjir berketinggian sekitar 1–1,5 meter.
Sementara di Desa Gajah Mati, dusun 1, 2, dan 3 ketinggian air mencapai 1 meter dan sekitar 50 rumah terendam. Akibatnya, sebagian warga terpaksa mengungsi di atas plafon rumah. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, untuk sementara para korban banjir meminta kepada warga lain yang rumahnya tidak terendam. Bantuan dari Pemkab Muba berupa fasilitas kesehatan, makanan,selimut dan air bersih sudah diterima sebagian warga.
Camat Sungai Keruh Indita Purnama saat ditemui di lapangan mengatakan, untuk sementara belum dapat dipastikan berapa jumlah rumah dari enam desa yang terendam dan berapa kerugian yang dialami warga. ”Data sementara rumah yang terendam air sekitar 350 rumah untuk dua desa, sedangkan kerugian materi belum dapat diperkirakan karena banjir yang terjadi baru hari ini,”jelasnya.
Dia menjelaskan, banjir yang dialami masyarakat di enam desa ini merupakan banjir tahunan yang selalu datang saat musim penghujan. Selain itu dalam satu tahun bisa terjadi dua hingga tiga kali, tapi untuk tahun ini yang paling besar. Dia menambahkan, banjir yang terjadi selain intensitas hujan yang tinggi dalam sepekan terakhir,juga disebabkan air kiriman dari Kab Muara Enim khususnya Kec Pendopo yang kebetulan dekat dengan Muba. ”Selain itu, kurangnya drainase yang baik dan tidak adanya lagi pepohonan besar di hutan sekitar desa, sehingga air yang datang tidak mampu lagi ditahan oleh pohon kecil,”ungkap dia. Sementara itu, Wakil Bupati Muba H Pahri Azhari mengatakan, saat ini Pemkab telah menyalurkan bantuan tahap awal, berupa selimut, obat-obatan dan makanan ke beberapa desa yang mengalami musibah.
Dia menjelaskan, yang perlu diwaspadai warga saat ini yaitu ancaman penyakit pascabanjir karena banyak hal yang dapat terjadi setelah air surut. ”Bencana yang sebenarnya, bukan saat banjir menyerang, tetapi setelah air tersebut menghilang. Sebab masyarakat sulit memperoleh fasilitas air bersih dan lingkungan yang kotor dapat mengundang berbagai penyakit.”
Menurut dia, saat ini Pemkab Muba melalui dinas kesehatan telah menyediakan posko kesehatan yang dapat dipergunakan sewaktuwaktu bagi masyarakat yang membutuhkannya. ”Kita sebenarnya tidak menginginkan bencana, namun semuanya ini pasti ada hikmah dan maksud tertentu dari tuhan,” tandasnya. [sindo/infokito]


















Tinggalkan Balasan