Masa Pemerintahan Sultan Abdurrahman
triyono-infokito
Setelah Palembang rata dengan tanah karena penyerbuan Belanda tahun 1659 tersebut, Ki Mas Hindi yaitu saudara Pangeran Seda ing Rajek diangkat sebagai Pangeran Palembang (dengan persetujuan Belanda dan atas anjuran penguasa Jambi yang bersahabat dengan Belanda). Beberapa kali Ki Mas Hindi mengirimkan utusannya ke Mataram pada masa kekuasaan Amangkurat I dan II, dalam usaha untuk memperbaiki hubungan dengan Mataram, namun sambutan dari penguasa Mataram tidak seperti yang diharapkan, dan beberapa kali ditolak oleh Sunan Mataram. Kemudian hubungan ini menjadi putus sama sekali dan penguasa Mataram membiarkan saja hubungan yang lebih erat antara Palembang dengan VOC di Batavia (Jakarta).
Setelah hubungan politik dan kultural dengan Mataram diakhiri, Ki Mas Hindi pada tahun 1675 memakai gelar “Sultan“, suatu gelar yang selama itu tabu untuk dipakai orang lain selain Sultan Agung Mataram (gelar yang didapat Sultan Agung dari penguasa Mekah tahun 1641).
Kraton dan kota Palembang dipindahkan dari Kota Gawang ke Beringin Janggut. Corak pemerintahanya dirubahnya condong ke corak Melayu dan lebih disesuaikan dengan ajaran agama Islam. Ki Mas Hindi bergelar Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706) atau Jamaludin Sultan Candiwalang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang, memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pusat kerajaan di Jawa (Mataram). Selama pemerintahannya Palembang mengalami kemajuan dan kemakmuran dan rakyat hidup senang.
Sultan Mahmud Badaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757) adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang (awalnya disebut dengan Masjid Sultan), Makam Lembang (Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang). Selain itu dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang. Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada ditangan Sultan yang berkuasa).
Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan. Kemungkinan perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya.
Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertahanannya. Ini dibuktikannya oleh Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803) mendirikan keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Sementara catatan lain Palembang menyebutkan bahwa Kuto Besak adalah gagasan Sultan Mahmud Badaruddin 1 dilanjutkan sampai selesai oleh Sultan Muhammad Bahauddin. [triyono-infokito]










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan