Hari-hari Membersihkan Hati
PROF DR AZYUMARDI AZRA
HARI-hari ini kita telah memasuki akhir bulan puasa Ramadan. Ada pernyataan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri; apakah puasa yang kita lakukan mampu membersihkan atau menyucikan hati sehingga seluruh tubuh kita dipenuhi kebaikan?
Hati adalah salah satu karunia Allah yang diberikan kepada setiap manusia. Hal ini dipertegas Nabi Muhammad SAW, ”Sesungguhnya di dalam tubuh manusia (anak Adam) terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah tubuh itu seluruhnya, dan anggota-anggota tubuh yang lain akan membuatnya baik. Bila ia buruk, buruklah tubuh itu seluruhnya, dan anggotaanggota tubuh yang lain akan membuatnya buruk.
Ia adalah hati.” Hati, dalam bahasa Arab, disebut al-qalb, yang berarti, ‘sesuatu yang dapat membantu manusia untuk mengetahui hakikat sesuatu’. Disebut hati (alqalb) karena ia akan selalu berbolak-balik dan berubah-ubah. Karena itu, kita wajib menjaganya, agar tetap dalam perubahan kebaikan. Imam al-Ghazali membagi hati dalam dua makna. Pertama, hati jasmani, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang.
Ia semacam pohon cemara di dada sebelah kiri, di dalamnya terdapat rongga berisi darah yang menjadi sumber atau pusat ruh. Inilah jantung. Hati dalam pengertian ini tidak hanya dimiliki manusia, tapi juga binatang. Kedua, hati ruhani, yaitu sesuatu yang sangat halus, tidak terlihat, dan tidak dapat diraba. Hati semacam ini memiliki sifat-sifat ketuhanan (luthf rabbani ruhani). Hanya hati inilah yang dapat mengenal Allah. Ia menjadi jati diri seorang manusia. Ia memiliki potensi untuk dapat menangkap, mengetahui, mengerti, dan memahami tentang sesuatu. Hati ruhani dan hati jasmani saling terkait.
Semakin banyak cahaya suci kebaikan memancarkan sinarnya ke ”potongan daging” ini, semakin banyak pula cahaya yang mengalir ke indera lahir dan batin. Karena cahaya kebaikan itu semakin memancar ke dalam hati (jantung) kita, banyak pula pancaran sinar kebaikan memenuhi jasad dan ruhani kita. Dalam konteks ini, hati ruhani dan hati jasmani kita semakin bersih. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah pernah ditanya, ”Ya Rasulullah, siapakah yang sebenarnya sebaik-baik manusia itu?” Nabi SAW menjawab, ”Setiap mukmin yang bersih hatinya.” Lalu, Nabi ditanya lagi,
”Apa gerangan hati yang bersih itu?” Nabi menjawab, ”Yaitu yang bertakwa lagi bersih, yang tak melekat padanya tipu daya, durhaka, khianat, dendam, serta dengki.” Dalam hadis lainnya, Nabi SAW mengatakan, ”Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih –di dalamnya ada pelita yang bersinar. Itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam dan terbalik; itulah hati orang kafir. Hati yang tertutup dan tutupnya terikat; itulah hari orang munafik dan hati yang dilapis, di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan.
Keimanannya ibarat sayuran yang menjadi panjang dengan disiram air yang baik dan perumpamaan kemunafikannya adalah seperti luka bernanah yang dipenuhi nanah. Mana saja dari keduanya yang lebih dominan, dialah yang memerintah.” Bagi kalangan sufi, hati ruhani diumpamakan sebagai cermin. Bila cermin itu dipenuhi kotoran penyakit, seperti dendam, dengki, hasud, khianat, iri –seperti disebutkan dalam hadis Nabi di atas, cermin itu akan terlihat hitam sehingga memantulkan cahaya keburukan bagi diri dan sekelilingnya.
Begitu sebaliknya, kalau cermin itu dihiasi kebaikan, seperti berpuasa, membaca Alquran, salat tarawih, beritikaf, berzakat, cermin itu terlihat putih bersih sehingga memantulkan cahaya kebaikan kepada diri dan sekelilingnya. Nah, ibadah puasa yang telah kita lakukan beberapa hari ini diharapkan dapat membersihkan cermin hati sehingga tetap putih, bersih, dan suci. Hati ruhani kita tetap dihiasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Wallahu a’lam bi al-shawab. (republika)
PROF DR AZYUMARDI AZRA Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


















Tinggalkan Balasan