Penggunaan obat herbal sebagai suplemen maupun alternatif terapi belakangan ini kian populer. Pada tahun 2004, sepertiga orang dewasa di negara maju memakai obat berbahan alam, dan lebih dari 60 persen orang Asia pernah mengonsumsi jenis obat itu.
“Salah satu alasan banyaknya penggunaan obat herbal adalah jenis obat itu sering dipandang tidak menimbulkan efek samping atau aman digunakan. Padahal, obat herbal tidak selalu aman karena ada kemungkinan menimbulkan efek samping” kata Hedi R Dewoto dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (FKUI).
Saat ini 11.000 spesies tanaman dimanfaatkan untuk obat, 500 spesies di antaranya sering digunakan. Tanaman herbal mengandung zat kimia, antara lain, golongan alkaloid, flavonoid, minyak esensial, dan glikosida. Jumlah dan jenis kandungan kimia pada bagian tanaman, seperti akar, daun, dan umbi dapat berbeda.
Jumlah kandungan kimia ditentukan banyak faktor, misalnya jenis tanah, iklim, pengolahan pascapanen. Bentuk sediaan obat memengaruhi zat kimia yang terkandung. Obat herbal di Indonesia berbentuk jamu, ekstrak terstandar, dan fitofarmaka (uji klinik). “Yang paling banyak adalah jamu,” kata Purwantyastuti, juga dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.
Kandungan zat kimia pada obat herbal bisa menimbulkan efek samping dan toksik. Efek samping itu bisa disebabkan obat itu sendiri maupun oleh kontaminan atau zat sintesis yang ditambahkan. Kemungkinan efek samping makin besar jika memakai banyak obat, pasien berusia lanjut, atau menderita penyakit terutama ginjal dan hati.
Interaksi obat herbal dengan obat modern ini penting untuk obat dengan batas keamanan sempit atau indeks terapi rendah. Namun, interaksi itu bisa meningkatkan toksisitas atau efek samping dan mengurangi efektivitas kerja obat. “Interaksi obat herbal dengan obat modern bisa membahayakan, seperti perdarahan, gangguan jantung, atau obat jadi tak efektif,” ujar Hedi.
Salah satu jenis tanaman herbal yang memiliki efek samping adalah bawang putih. Tanaman ini umumnya digunakan untuk mencegah penyakit jantung dan kanker. Efek sampingnya, antara lain, adalah bau badan dan napas tidak enak, kadang gangguan pencernaan, flatus atau buang angin, tidak nafsu makan, pilek, asma dan reaksi alergi.
Tanaman lain adalah aloe vera atau biasa dikenal dengan sebutan lidah buaya. Bagian tanaman ini yang biasa digunakan adalah cairan jernih dari bagian dalam daun untuk abrasi, luka bakar, dan gangguan kulit lain. Lidah buaya juga biasa diminum untuk mencegah diabetes.
“Aloe vera gel dapat ditoleransi dengan baik. Tetapi kadang muncul rasa ditusuk-tusuk, gatal ringan, atau reaksi hipersensitivitas,” kata Hedi.
Namun, ekstrak seluruh daun lidah buaya untuk jus ternyata mengandung anthraquinone yang dapat menimbulkan kram usus, diare, dan hipokalemia (kekurangan kalium). “Penggunaan lidah buaya dalam bentuk jus secara kronik dapat menimbulkan hipokalemia sehingga meningkatkan risiko keracunan digoxin,” ujarnya.
Penggunaan ginkgo juga bisa ditoleransi dengan baik. Akan tetapi, ditemukan prevalensi kurang dari 2 persen adanya efek samping berupa gejala gangguan saluran pencernaan, sakit kepala, hipersensitivitas di kulit, serta ada laporan kasus bahwa ginkgo berpotensi menimbulkan perdarahan dan kejang.
Menurut Hedi, ada laporan kasus pemberian ekstrak ginkgo bersama trazodone pada orang tua yang menimbulkan depresi akut. Oleh karena itu, penggunaan ekstrak ginkgo harus hati- hati bila diberikan bersama antikoagulan atau obat yang meningkatkan risiko perdarahan.
Penggunaan teh hijau dengan dosis lebih dari 300 miligram kafein (lima cangkir teh) menimbulkan efek samping, di antaranya gelisah, mudah tersinggung, insomnia atau sulit tidur, vertigo, diare, hilangnya nafsu makan, dan sakit kepala. Jika berinteraksi dengan obat sintetik, teh hijau dapat memperlambat penyerapan obat ke tubuh.
Pada obat herbal berbahan ginseng, hasil survei menunjukkan, 10-20 persen pengguna ginseng kronik pada penderita psikiatri akan menstimulasi timbulnya hipertensi, gelisah, insomnia, erupsi kulit, dan diare. Sementara tanaman pegagan topikal bisa menimbulkan efek samping dermatitis kontak.
Penggunaan beberapa jenis minyak esensial dengan kandungan zat kimia juga diduga sebagai penyebab efek toksik, seperti halusinasi, kejang-kejang, dan dermatitis. “Obat herbal tidak selalu aman dikonsumsi. Oleh karena itu, perlu ditakar dosisnya dan waspadai interaksi dengan obat modern yang bisa membahayakan kesehatan,” tutur Hedi. (EVY)









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan