infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Catatan Perkembangan Kota Palembang

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Runtuhnya Sriwijaya di sekitar abad ke-12 dan 13, seolah-olah tidak ada kesinambungan Sejarah dengan “kelahiran” Palembang. Palembang memulai lembaran catatannya dengan Sejarah Melayu, yaitu saat Sang Sapurba, yang berpuyang dengan Iskandar Zulkarnain, turun di atas Bukit Seguntang Mahameru. Tokoh setengah dewa ini membuat “kontrak” atau “perjanjian awal” dengan penguasa Demang Lebar Daun, untuk menjadi penguasa dan menurunkan kekuasaan kepada raja-raja Melayu, yang mempunyai garis keturunannya. Kekuasaan ini berkembang di Malaka, yang pada gilirannya menurunkan raja-raja Melayu baik di Semenanjung Malaka, Sumatera dan kepulauan Riau.

Lembaran kedua catatan Palembang datang dari babad/sejarah Jawa, termasuk Banten dan Cirebon. Babad yang paling mempengaruhi lembaran catatan Palembang adalah Babad Tanah Jawi. Lembaran ini mengetengahkan Aria Damar dan Raden Fatah. Kedua tokoh legendaris ini mengikat masa lampau Palembang dengan masa madyanya, antara Majapahit, Demak dan Palembang. Dari kedua tokoh ini kharisma Majapahit diturunkan melalui Demak kepada penguasa Palembang, dalam bentuk garis-garis silsilah penguasanya. Memantapkan silsilahnya, maka tokoh orang-orang suci seperti Walisongo dan para Nabi menjadi garis ke atas dari silsilah penguasa Palembang. Oleh karena itu tidaklah heran garis-garis keturunan Palembang kaya sekali dengan pelbagai akar silsilah, di mana dapat kita baca pada saat perjalanan sejarah elit Melayu-Jawa memerintah di Palembang sejak paruh kedua abad ke-16.

Sebaliknya lembaran catatan daerah setempat, yaitu khususnya di daerah pedalaman Palembang, terdapat perkawinan antara yang berpuyang dengan Iskandar Zulkarnain, lewat Bukit Seguntang, dengan Majapahit, melalui Aria Damar. Muncul tokoh-tokoh yang namanya berbaur dan berciri Melayu-Jawa, di dalam akar silsilah mereka. Silsilah ini tertulis pada lontar, bambu atau secara tutur. Pengaruh budaya Melayu dan Jawa sampai sekarang pun masih bisa dibuktikan. Sebagai contohnya adalah bahasa, seperti pemakain kata “lawang (pintu)”, “gedang (pisang)”, “jabo (luar)” dan masih banyak lagi. Gelar kebangsawanan pun bercorak demikian, seperti pemakaian gelar Raden Mas atau Raden Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam dan beberapa Masjid pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam dan arsitek Masjid di Jawa. [triyono-infokito]

Wallahua’lam

banner infokito

1,628 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca