REPUBLIKA.ID, Majusi adalah suatu agama atau kepercayaan yang mengagungkan api sebagai sesembahan atau Tuhan. Mereka disebut orang-orang Majus dari Timur yang datang menyembah bayi Kristus di malam natal (sering disimbolkan dengan empat raja datang membawa persembahan berupa emas, dupa, dan minyak mur). Dalam Alquran, kata Majusi disebutkan pada surah Al-Hajj [22]: 17.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi`iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Hajj [2]: 17).
Dalam hadis, agama Majusi ini juga pernah disinggung Rasulullah SAW. “Sesungguhnya, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Dan, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya sebagai Nasrani, Yahudi, atau Majusi.” (HR Bukhari).
Menurut sejarahnya, agama Majusi ini didirikan oleh Zoroaster yang berasal dari Persia, Iran. Konon, agama ini dikenal sebagai agama yang mempercayai satu Tuhan (monoteisme), yaitu tuhan kebaikan. Dalam kepercayaan Majusi, tuhan kebaikan ini disebut dengan Ahura Mazda. Lawan dari tuhan kebaikan adalah tuhan keburukan, yaitu Ahriman.

Menurut sebagian riwayat, Zoroaster (atau disebut Zarathustra) adalah seorang yang sangat alim. Dialah pencetus ajaran Zoroastrianisme yang dianut oleh bangsa Persia. Dalam kehidupan bangsa Persia, Zoroaster dianggap sebagai seorang tokoh penting dalam sejarah Persia. Bahkan, ada pula yang menyebut dirinya seorang nabi. Namun, terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai kehidupannya. Ia diperkirakan hidup antara tahun 1700 SM, tetapi adapula yang menyebutkan abad ke-6 SM.
Beberapa literatur menyebutkan, daerah tempat Zoroaster hidup dikaitkan dengan Kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Cyrus Yang Agung pada pertengahan abad ke-16 SM. Dalam masa dua abad kemudian, agama ini diterima oleh raja-raja Persia dan memperoleh pengikut yang cukup banyak.
Sesudah kekaisaran Persia ditaklukkan oleh Aleksander Yang Agung (Alexander The Great) pada akhir abad ke-4 SM, agama Zoroaster mengalami kemunduran. Akan tetapi, pada masa Dinasti Sassanid (226 SM), agama Zoroaster diterima sebagai agama resmi negeri Persia. Dan, sesudah ditaklukkan Arab pada abad ke-7 Masehi, sebagian besar penduduk Persia memeluk agama Islam.
Sekitar abad ke-10, sebagian penganut agama Zoroatser lari dari Iran ke Hormuz, sebuah pulau di teluk Persia. Dari sana, mereka dan anak keturunannya pergi ke India dan mendirikan koloni (komunitas). Orang Hindu menyebut mereka dengan Parsees, artinya orang yang berasal dari Persia. Hingga kini, jumlah mereka mencapai 100 ribu orang. Mereka tinggal di India, terutama di dekat Bombay. Zoroastrianisme sendiri tak lenyap seluruhnya di Iran. Hingga kini, jumlah pengikutnya di Iran mencapai 20 ribu orang.
Dalam The Miracle 15 in 1 Syaamil Al-Qur’an disebutkan, Majusi adalah sebutan dalam Islam bagi penganut yang mengikuti agama Zoroaster (Zarathustra) dari Persia, Iran. Zarathustra merombak agama Indo-Eropa. Dewa-dewa diturunkan derajatnya menjadi sekadar malaikat, sementara Tuhan dianggap sebagai esa (satu), yakni Ahura Mazda. Dalam perang Kosmos, Ahura Mazda ini selalu bertarung dengan penguasa kegelapan yang bernama Ahriman. Belakangan Ahriman diadopsi orang-orang Ibrani sebagai setan, Iblis, Azazil, atau Lucifer.
Pada awal kemunculan Islam, Majusi merupakan satu ajaran yang tersebar di tengah masyarakat Persia. Ajaran ini bahkan menjadi agama resmi Dinasti Sassanian sejak pertengahan abad ke-3 SM. Inti ajaran agama ini adalah perseteruan antara Ahura Mazda (kebaikan) dengan Ahriman (kegelapan atau kejahatan). Mereka menyucikan api dengan cara menyalakannya sebagai penghormatan bagi Ahura Mazda.
Sampai sekarang rumah perapian itu masih ada. Yang paling terkenal dan utama adalah rumah yang terdapat di Baku, ibu kota Azerbaijan, Iran. Selain itu, sesembahan api yang terdapat di puncak Bukit Isfahan. Orang-orang Persia meninggalkan tempat penyembahan api di Yaman yang bangunannya masih tetap berdiri di sana.

Inti Ajaran
Sejumlah pihak meyakini, Majusi merupakan salah satu agama samawi (langit). Namun, sebagian lainnya menganggap, agama ini adalah agama ardi (bumi). Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul menyebutkan, Majusi adalah agama ardi, seperti Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Tao, dan lainnya.
Kelompok yang berpendapat Majusi sebagai agama samawi menyebutkan kalau pembawa ajaran ini, yakni Zoroaster sebagai seorang nabi. Sedangkan ajarannya merupakan ajaran monoteisme.
Beberapa inti ajaran Majusi, antara lain, pertama, persamaan derajatnya dari laki-laki dan perempuan yang disebutkan dalam sejarah kuno Iran. Ajaran ini diadopsi oleh PBB pada akhir tahun 1994 di salah satu sidangnya yang berlangsung di Kairo. Pengadopsian ini ditujukan sebagai bentuk solusi untuk mengendalikan angka kelahiran.
Kedua, pemurnian air, tanah, udara, dan api. Pada bagian pertama dari 138 bukunya, Herodotus telah menyebutkan tentang kebersihan air kuno di Iran. Menurut dia, orang Persia pada zaman itu tidak diperkenankan buang air kecil di sembarang tempat, terutama di dalam air. Mereka juga pantang mandi dengan menceburkan diri ke dalam air dan tidak pernah membiarkan orang lain melakukan itu.
Ketiga, Zarathustrian juga melarang perbudakan dan hal-hal lain yang tidak berperikemanusiaan. Dan, keempat, Zarathustrian adalah ajaran perjuangan untuk maju dan mengajarkan untuk menghindari kemalasan. Setiap orang seharusnya bergantung pada diri sendiri dan bebas menuai apa yang dia lakukan. Zoroaster masih memiliki beberapa peninggalan, di antaranya terdapat di Bombay (India), Yazd, dan Karman di tengah-tengah Iran.
Sami bin Abdullah menambahkan, Zoroaster juga memberlakukan undang-undang dan syariat bagi pengikutnya. Di antaranya, Zarathustra menerapkan undang-undang dalam kehidupan bermasyarakat yang oleh pengikutnya dianggap sebagai aturan terpelajar dalam menunaikan hak-hak manusia. Dia melarang kehidupan peperangan dan menyeru pada kehidupan damai. Dia juga mempersilakan manusia untuk bebas memilih dengan mengikuti atau menolak ajarannya. Dia tidak memaksa seorang pun, baik kaumnya maupun musuhnya; kaum Thuraniyah, untuk mengikuti ajarannya.
Dia berkata sambil menghadap ke arah timur, tempat munculnya cahaya, memerintahkan pada kebaikan, dan melarang kemungkaran. Dia tewas ditikam oleh orang Thuraniyah pada saat larut dalam ibadah menyeru Tuhan kebaikan. ‘’Wahai Mazda, kapankah matahari akan terbit dan menebarkan kebaikan di dunia?”***
Wallahu a’lam
***Disadur dari sebuah tulisan di laman republika
kembali ke atas | indeks pilihan | download | iklan kecik






















Tinggalkan Balasan