Alwi Shahab | Wartawan Republika
Pada tahun 1920-an — dimulai sejak dibukanya Terus Suez (1869) — Batavia mengalami perkembangan pesat. Baik dalam jumlah penduduk karena beroperasinya perusahaan-perusahaan besar, maupun makin meningkatnya kedatangan warga Eropa.
Di sekitar Weltevreden muncul hunian-hunian baru, seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis, dan Menteng. Di tempat tempat ini orang membangun rumah di pinggir jalan dan dinaungi pohon pohon rindang.
Rumah-rumah yang dibangun itu tidak seperti di Kota Lama (Oud Batavia, Jakarta Kota, Pasar Ikan), dekat ke jalan dan bertingkat dua, tetapi berupa rumah-rumah modern seperti di Eropa: satu tingkat, luas dan sejuk. Satu gejala baru pada arsitektur ialah pavilun yang setengah terpisah dari rumah besar untuk anggota keluarga, rekan kerja atau untuk disewakan.
Sekonyong-konyong Weltevreden mempunyai gereja-gereja baru — tapi masjid dilarang dibangun di jalan-jalan raya — sekolah, klab malam dan teater. Pendeknya, seperti diitulis Willard A Hanna dalam Hikayat Jakarta — semua ciri khas Eropa yang modern.
Dan, di daerah pedalaman Batavia, di daerah Priangan yang indah dan produktif, dibangun perkebunan perkebunan yang luas serta rumah rumah tinggal para manajernya, yang keindahannya melebihi hampir semua rumah di Nieuw Batavia, yang secara meyakinkan mengembalikan gelar ‘Ratu dari Timur’, yang terkait dengan Oud Batavia (kota tua), tulis Hanna.

Warga Belanda, khususnya Indo yang sudah tinggal lebih awal di Batavia, hidup dengan gaya pribumi.
Di kediamannya, sebelum matahari terbit dan ketika udara masih dingin, tukang kebun menyapu halaman dengan sapu lidi. Sementara seorang pembantu menyibukkan diri di sumur menimba air.
Sampai 1960-an, rumah-rumah di Jakarta memiliki sumur. Sumur mulai menghilang sejak perusahaan daerah air minum (PDAM) mendistribusikan air bersih sampai ke kampung kampung.
Dalam buku Recalling the Indies, Joost Cote dan Loes Westerbeek (editor), menggambarkan kehidupan sebuah rumah tangga Indo di Batavia.
Sebelum pukul 05.00 atau 06.00 pimpinan keluarga muncul di beranda depan untuk menikmati kopi tubruk pertamanya dan mengisap rokok. Dia masih memakai slaapbroek (pakaian tidur).
Sementara, keluarga lainnya mulai ribut di belakang rumah. Mandi, bertengkar dan makan. Sarapan yang disajikan sekitar pukul enam adalah bubur, roti, dan biskuit dengan selai atau keju di sebuah kaleng.
Setelah sarapan anggota keluarga pergi ke arah berbeda. Sementara sang tante yang tinggal di keluarga ini pergi dengan sebuah delman. Setelah sang ibu pergi, anak-anak pergi ke sekolah dengan sebuah dokar atau sepeda.
Sementara, si ayah punya mobil sendiri untuk mengantarnya ke kantor melalui jalan-jalan sempit di dalam kota. Dia tidak akan pulang sampai pukul empat sore. Sekitar pukul 12.00 dia dikirimi sebuah rantang berisi nasi, sayur, ikan, dan kerupuk.
Setelah anak-anak dan suaminya meninggalkan rumah, nyonya rumah yang masih mengenakan kimono berjalan-jalan menuju kebun memetik beberapa tangkai bunga melati dan cempaka. Pada saat demikian ia memberikan instruksi kepada koki untuk pergi ke pasar membeli sayuran, tempe dan cabe.
Anak-anak akan tiba dari sekolah sekitar pukul 13.00. Setelah melepaskan sepatunya, mandi dan memakai baju yang bagus, mereka duduk rapi untuk menyantap sepiring nasi dan sambel goreng tempe.
Pakaian yang dikenakan orang di rumah sangat berbeda dengan yang mereka pakai saat bepergian.
Sarong kabay, sarung batik, dan kebaya putih menjadi norma bagi perempuan Eropa. Sarung kebaya dan pakaian tidur tetap dipelihara, namun dibatasi dipakai di rumah. Di luar rumah memakai pakaian Barat. Di dalam rumah pria memakai piyama. Sementara ibu-ibu Belanda terutama para Indo mengenakan kimono atau jas rumah (hoskut).
Pada sore hari di antara anggota keluarga pergi ke luar rumah untuk rekreasi atau mencari udara segar.
Peristiwa yang menyenangkan adalah saat acara pelelangan barang-barang warga Belanda yang akan meninggalkan Nusantara.
Pelelangan adalah peristiwa yang sangat menyenangkan, kesempatan bagus untuk bertemu dan ngobrol dengan teman. Olahraga adalah pengisi waktu lainnya. Lapangan olahraga didominasi atlet-atlet Indo.
Sementara ada yang menyukai pergi ke kolam renang yang mulai banyak terdapat di Batavia. Sementara para ibu sangat suka berbelanja di Weltevreden di waktu senja, untuk keliling mengunjungi toko-toko busana di Noordwijk (kini Jalan Juanda). Mereka akan membeli kosmetik dan barang-barang renik serta melihat-lihat desain terbaru di Bonafaas (sekitar Noordwijk dan Rijswijk).
Tujuan utama shopping mereka adalah toko The Little Fashion House dan Versteeg Fashion Emporium untuk memperoleh pakaian wanita yang mewah yang koleksinya langsung dari pusat mode di Paris.
Pada masa sebelum Perang Dunia II itu, jazz Amerika adalah gaya musik paling populer. Pengaruh jazz datang langsung dari Amerika dan koloni Amerika: Pilipina. Musisi jazz Pilipina pertama, yang dipanggil Milanese, datang ke Batavia pada 1928. Beberapa diantaranya menetap.
Musik Hawai juga sangat populer. Idola utamanya adalah grup band Batavia yang digemari dan populer, The Silver King dan Brown’s Sugar Babies yang bermain di restoran restoran besar atau di Hotel der Nederlanden (kini menjadi Gedung Bina Graha tempat kegiatan presiden).
Demikian secuil kehidupan para Indis sebelum perang di Batavia seperti diceritakan Pamela Pattyanama dalam Recalling the Indies.***alwishahab/infokito
Wallahua’lam
***Disadur dari sebuah tulisan Alwi Shahab, Wartawan Republika, di Harian Republika Edisi Ahad, 2 Agustus 2009
kembali ke atas | indeks | pojok download










![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan