Produksi listrik tenaga air maupun mikrohidro yang dikelola PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Mrica, Banjarnegara, Jawa Tengah, defisit 60 persen dari kapasitas total produksi 306 megawatt selama musim kemarau ini. Dari 25 turbin, hanya 10 unit yang beroperasi rutin tiap hari.
Defisit pasokan listrik terjadi pula di Sumatera bagian selatan dan tengah.
Manajer PT Indonesia Power UBP Mrica, Harlen, Kamis (24/7), mengatakan, defisit produksi itu akibat kekurangan pasokan air sehingga turbin tak bisa dioperasikan. Ke-25 turbin itu tersebar di 14 lokasi waduk maupun aliran irigasi.
PLTA Panglima Besar Sudirman di Kabupaten Banjarnegara dengan kapasitas produksi terbesar sampai 180,9 MW pekan kemarin sempat berhenti berproduksi selama tiga hari. PLTA itu kini hanya mendapat pasokan air 4 meter kubik per detik dari total 15 meter kubik per detik yang dilimpaskan Sungai Serayu per hari. Adapun yang 11 meter per kubik per detik disalurkan ke irigasi untuk mengairi 4.883 hektar sawah.
Padahal, menurut Harlen, untuk menggerakkan satu unit turbin perlu air 65 meter kubik per detik. ”Dengan pasokan minim, kami perlu menyimpan cadangan air sampai maksimal. Setelah cadangan penuh, kami baru mengoperasikan turbin,” katanya.
Untuk PLTA maupun PLTMH lain tidak jauh berbeda. Misalnya, turbin PLTA Wonogiri, dari dua unit, hanya dijalankan satu unit. ”Itu pun sangat tergantung dari Dinas PU setempat, apakah pasokan air dialirkan untuk PLTA atau ke irigasi,” katanya.
Krisis makin parah
Di Sumatera bagian selatan dan tengah, operasional empat PLTA terganggu. Dampaknya, defisit pasokan listrik bertambah dari 150 MW menjadi 170 MW.
Menurut Manajer Hukum dan Komunikasi PLN Sumbagsel Harris Effendi, Kamis di Palembang, masalah serius yang sedang dihadapi PLN adalah debit air sungai-waduk turun drastis sehingga kapasitas PLTA turun hampir 60 persen.
General Manager PT PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu Mochamad Sulastyo menambahkan, penurunan debit air di sejumlah sungai di wilayah hulu Sumatera terutama disebabkan oleh maraknya penebangan hutan.
Menurut Gubernur Sumsel Mahyuddin, pemadaman bergilir di Kota Palembang terjadi karena ada wilayah yang mengalami defisit cukup besar, seperti Bengkulu dan Jambi.
Untuk mengatasi defisit listrik di Palembang, Gubernur meminta PLN mengalihkan kapasitas pembangkit sebesar 2 x 100 MW dari Kabupaten Muara Enim.
Pemadaman bergilir mengganggu mesin pompa air sehingga ratusan pelanggan PDAM di Palembang tidak bisa mendapatkan air bersih. (MDN/ONI/kompas)


















Tinggalkan Balasan