Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memperluas sasaran areal tanam kedelai di empat kabupaten, yakni di Musi Rawas (Mura), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, dan OKI. Hal itu dilakukan untuk menyiasati ketergantungan terhadap pasokan kedelai di luar daerah. Iklim dan tanah di Provinsi Sumsel sangat mendukung untuk mendukung program ini.
Untuk menyukseskan program tersebut, pemerintah berencana memberikan bibit kedelai gratis kepada petani di empat kabupaten tersebut. Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel menyebutkan, luas sasaran tanam kedelai pada 2008 mencapai 5.000 hektare lebih yang tersebar di empat kabupaten itu, dengan sasaran terbesar atau terluas berada di Kab Musi Rawas. Demikian dilaporkan harian SINDO.
“Selain empat kabupaten itu, Muara Enim dan Lahat juga akan menjadi sasaran. Kita akan melakukan koordinasi dan memberikan bantuan berupa bibit pada pihak kabupaten/ kota untuk menggalakkan penanaman kedelai,” kata Wakil Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel Leonardo Hutabarat di Palembang Sabtu (19/1) kemarin.
Leonardo menyebutkan, total produksi kedelai di Provinsi Sumsel pada 2007 dengan luas lahan pertanian 1.900 hektare hanya sekitar 2.760 ton, atau sekitar 1,5 ton kedelai per hektare. Sementara, produksi tahun 2006 justru lebih besar yakni mencapai 3.800 ton, dengan luas areal produksi kedelai mencapai 2.700 hektare. Provinsi Sumsel sendiri masih mendatangkan kedelai dari luar daerah.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumsel Abdul Shobur mengungkapkan, pihaknya tidak mengetahui tingkat kebutuhan kedelai di Provinsi Sumsel. Pasalnya, selama ini kedelai tidak menjadi pantauan Disperindag seperti layaknya komoditas lainnya.
”Ya kondisinya sama seperti jagung. Kita pantau, tetapi tidak terlalu mendetail,” ungkapnya.
Menurut Shobur, keengganan petani untuk menanam kedelai selama ini disebabkan keuntungannya yang jauh lebih kecil dari menanam jagung. Selain itu, juga terkadang petani kedelai mengalami kerugian karena biaya produksi yang lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh.
Namun, jika pasar kedelai dapat distabilkan dan menguntungkan, mungkin petani akan tertarik untuk menanam kacang yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe tersebut. “Kalau harga bagus dan produksi bisa ditingkatkan, bukan mustahil kita akan suplai ke Jawa, dan itu akan menambah pendapatan daerah,” katanya. (berli zulkanedi/SINDO/infokito)


















Tinggalkan Balasan ke leellyBatalkan balasan