Ratusan warga Kota Palembang berebut membeli minyak tanah untuk ditimbun di sebuah pangkalan di kawasan Jaka Baring, Rabu (28/11). Warga mengaku terpaksa menimbun minyak tanah karena khawatir bahan bakar ini akan menghilang dari pasaran setelah konversi energi dari minyak tanah ke gas dimulai.
Kegiatan penimbunan minyak tanah ini juga dilakukan warga karena sejumlah pemilik pangkalan tidak membatasi volume penjualan. Di sisi lain, tidak dibatasinya penjualan membuat warga lainnya tidak memperoleh minyak tanah karena kehabisan stok.
Dari pantauan harian Kompas, para warga Kelurahan Sila Beranti terlihat membawa ratusan jeriken minyak tanah dari berbagai ukuran. Rata-rata, seorang warga bisa membeli minyak tanah hingga 50-60 liter. Warga harus saling berebut satu sama lain agar bisa segera dilayani dalam membeli minyak tanah.
Menurut Hajah Rusnaeni (50), warga Kelurahan Sila Beranti, Jaka Baring, pihaknya bisa membeli minyak tanah hingga 50 liter. Dikatakan, minyak tanah sebanyak itu tidak untuk dijual lagi, namun akan digunakan untuk stok pemakaian di rumah.
“Saya terpaksa menimbun karena khawatir minyak tanah akan hilang dari pasaran setelah mendengar rencana dan imbauan pemerintah tentang penggunaan gas,” kata dia.
Rusnaeni sendiri mengaku belum siap jika harus menggunakan gas sebagai bahan bakar. Ketidaksiapan Rusnaeni ini terkait dengan munculnya rasa takut dalam menggunakan bahan bakar gas.
“Gas elpiji kan bisa meledak, makanya saya takut menggunakannya untuk memasak di rumah. Biarlah saya tetap pakai minyak tanah saja meskipun kadang-kadang langka dan mahal. Yang penting risikonya lebih kecil ketimbang gas,” kata Rusnaeni. (ONI/kmps)


















Tinggalkan Balasan