Perubahan cuaca mulai memperlihatkan dampaknya pada jamaah haji Indonesia di Madinah, Arab Saudi. Perbedaan cuaca yang ekstrem yakni panas dan dingin dan kelembaban yang rendah mulai memunculkan penyakit seperti influenza, diare, infeksi saluran pernafasan atas, batuk, dan lainnya.
Kondisi itu dapat dilihat dari mulai banyaknya jamaah yang berobat baik di dokter kloter, klinik sektor, maupun dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah. ”Pada umumnya, keluhan yang dialami oleh jamaah adalah gejala sakit akibat pengaruh cuaca. Yang jadi nomor satu adalah gejala influenza,” kata salah seorang dokter di Tim BPHI Agus Widyatmoko di Madinah, Jumat (23/11).
Suhu yang berubah-ubah dari siang ke malam sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang, terlebih lagi bagi jamaah Indonesia. Karena, kata dia, perbedaan suhu yang ada di Madinah cukup ekstrem dari panas ke dingin sehingga membutuhkan kemampuan adaptasi. Di samping itu, sambungnya, jamaah juga melakukan banyak aktivitas, termasuk ibadah Arbain sehingga istirahatnya berkurang. Bila tak didukung dengan konsumsi yang bergizi dan minuman yang cukup, maka tubuh sangat rentan terhadap penyakit akibat pengaruh cuaca.
Suhu di Madinah, Makkah, dan Jeddah saat ini bervariasi antara 35 – 16 derajat celsius dengan tingkat kelembabannya mencapai 80 – 32 persen. Suhu pada umumnya menyengat pada siang hari dan mendingin pada malam dan dini hari dengan udara yang kering. Untuk di Madinah, suhunya tergolong dingin di musim pancaroba. Pantauan cuaca dan suhu udara di Madinah dua hari ini berkisar antara 26 -16 derajat celsius. Mendekati Desember 2007, cuaca akan mendingin dan untuk itu perlu persiapan fisik dari jamaah.
Agus menilai jamaah yang berusia lebih muda daya tahannya lebih baik. Yang rentan terhadap perubahan cuaca adalah jamaah usia lanjut. ”Mereka itu yang biasanya terkena langsung perubahan cuaca di sini karena daya tahan tubuh mereka umumnya rendah.”
Selain influenza dan infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), masalah kesehatan yang banyak muncul adalah gangguan pencernaan, seperti diare. ”Gangguan pencernaan itu terjadi karena udara dan juga makanan yang tidak cocok dengan jamaah. Umumnya yang terjadi adalah diare. Gangguan pencernaan ini mulai banyak masuk ke BPHI.”
Kasus lainnya yang dialami jamaah adalah penyakit bawaan, seperti gangguan metabolik (diabetes), ginjal dan gagal ginjal, gangguan jantung di mana hampir seluruh pasien adalah jamaah lanjut usia. BPHI menurut Agus juga merawat jamaah yang terjatuh akibat terdorong saat ibadah atau di tempat lain. Yusro, jamaah dari Embarkasi Solo saat ini dirawat akibat patah tulang, terjatuh di Bandara Jeddah.
Sampai saat ini, jamaah yang berobat ke dokter kloter di Madinah mencapai 3.199 orang, ke klinik di sektor Madinah mencapai 105 orang, dan ke BPHI sebanyak 81 orang. Jamaah sakit yang dirujuk untuk dirawat di RS Arab Saudi mencapai tujuh orang. (wed/rep)











![[2026] Proyek Perluasan dan Pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2018/07/logoagplg.jpg)









Tinggalkan Balasan