Sebanyak 17 kecamatan di Provinsi Jambi masih bergantung pada beberapa pembangkit listrik tenaga diesel yang telah berumur, dengan daya produksi tinggal 30 persen. Kondisi tersebut terjadi akibat daerah itu sulit dijangkau jaringan interkoneksi karena berada di kawasan terpelosok.
Kepala Humas PLN Jambi H Tambunan mengatakan, masyarakat yang menggantungkan listrik dari PLTD ini terletak di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur. Mereka bertempat di dekat pesisir pantai timur Sumatera, yang mana untuk menjangkaunya PLN harus menyeberangkan kabel distribusi listrik lewat sejumlah kanal. Hal itu yang menyulitkan dan menimbulkan biaya besar sehingga PLN masih berpikir ulang untuk memasokkan listrik dari jaringan interkoneksi.
Saat ini jatah listrik yang didapatkan warga di kecamatan tersebut rata-rata hanya 14 jam per hari. Sumber listrik adalah dari pembangkit-pembangkit di kecamatan, yang usianya sudah lebih dari 15 tahun, sehingga setiap harinya hanya dapat dibebani 30-40 persen.
“Sebenarnya bisa saja diperbaiki, tapi biayanya akan besar sekali. PLN bisa tambah rugi,” tutur Tambunan, Rabu (10/10).
Ia melanjutkan, sudah banyak warga di daerah-daerah tersebut yang mengajukan pasokan listrik penuh selama 24 jam dalam sehari. Para nelayan yang memproduksi es untuk mengawetkan ikan sebenarnya butuh daya listrik pada siang hari. Demikian pula kalangan usaha kecil menengah mengeluh minimnya pasokan listrik.
Akan tetapi, pihaknya kesulitan untuk memenuhinya karena akan semakin merugikan PLN. Dalam mengoperasikan pembangkit, bahan bakar yang digunakan adalah solar yang harganya kini telah melambung.
“Untuk menghasilkan satu kilowatt saja, kami harus nombok Rp 3.200. Apalagi kalau operasional seluruh pembangkit dijalankan sepanjang hari, PLN takkan sanggup menanggung biayanya,” ujarnya.
Pihaknya berharap seluruh pembangkit bertenaga diesel ini ditargetkan sudah tidak akan menggunakan bahan bakar solar.
Saat ini kebutuhan listrik Jambi sebesar 125 megawatt. Jaringan interkoneksi baru dapat memenuhi 110 MW. Dengan demikian PLTD yang berada di kecamatan-kecamatan terpelosok tersebut menyuplai total 15 MW.
Sementara itu, tiga PLTD di Kabupaten Tanjung Jabung Barat kini tidak lagi dapat dimanfaatkan karena mesinnya sudah dipakai untuk kegiatan produktif lainnya. Fungsi dari tiga PLTD tersebut diambil alih PLTG Pematang Lumut. (ITA/kmps)


















Tinggalkan Balasan