Alwi Shahab, Wartawan Republika
Ketika Gubernur Jenderal Marsekal Herman Daendels (1808-1811) menghancurkan kastil di kota bertembok Batavia (sekitar Pasar Ikan) Jakarta Utara, dia memindahkan pusat kota ke Weltevreden sekitar belasan kilometer dari kota lama.
Di sini, Daendels, pengagum Kaisar Prancis Napoleon Boneparte, membangun pusat administrasi dan istana yang kini menjadi Departemen Keuangan di Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Tapi, gedung mewah ini baru selesai secara keseluruhan 20 tahun kemudian. Sementara itu, Daendels sudah dipanggil pulang.

Karena urung menjadi istana, sayap sebelah kiri gedung yang berhadapan dengan Lapangan Parade Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), sebelum menjadi Departemen Keuangan, digunakan sebagai tempat penginapan para tamu pejabat Pemerintah Belanda. Pada 1839, bagian bawah gedung dimanfaatkan untuk Kantor Pos dan percetakan milik negara. Pada 1 Mei 1848, sebagian bangunan ‘istana’ yang dinamakan ‘Gedung Putih’ resmi dipakai untuk Departemen van Justitie (Mahkamah Agung) dan setelah kemerdekaan digunakan sebagai Departemen Keuangan hingga kini.
Pada tahun 1869, bertepatan dengan 200 tahun usia Kota Batavia (Belanda tidak mengakui berdirinya Jayakarta pada 22 Juni 1527), diperingati peristiwa saat Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta. JP Coen oleh masyarakat Belanda dianggap sebagai gubernur jenderal yang berjasa dalam merintis penjajahan Belanda di nusantara.
Peresmian Monumen JP Coen diselenggarakan dalam suatu acara yang meriah dan dihadiri hampir seluruh masyarakat Belanda di Batavia. Patung Coen yang memakai pakaian kebesarannya berdiri angkuh dengan tangan sambil menunjuk itu dihancurkan pada 7 Maret 1943 pada masa pendudukan Jepang. Berlainan dengan saat peresmian, ketika monumen ini dihancurkan, masyarakat bertepuk tangan karena lambang kolonialis dihancurkan dari bumi Indonesia.
Ketika ‘istana besar’ ini dijadikan sebagai kantor pemerintahan, di bagian belakang terdapat tempat parkir kereta kuda angkutan pada masa itu. Di samping kanan gedung Depkeu, dahulunya terdapat klub militer ‘Concordia’ yang kemudian menjadi tempat sidang-sidang DPR pada masa kabinet parlementer sebelum dibangun gedung MPR/DPR di Senayan. Kini, bekas klub militer Concordia menjadi bagian dari Departemen Keuangan.
Di Departemen Keuangan inilah, masalah-masalah keuangan negara diolah dan diputuskan sejak tahun 1950-an hingga sekarang. Kini, setelah mencuatnya kasus Bank Century, departemen yang dipimpin oleh Sri Muljani mendapat sorotan tajam. republika/infokito
Wallahua’lam

***disadur dari sebuah tulisan Alwi Shahab di koran Harian Republika edisi Sabtu, 19 Desember 2009 halaman 10


kembali ke atas | indeks | download










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan