infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Nilai Strategis Sektor Pangan dan Koperasi bagi Kemajuan, Kesejahteraan, dan Kedaulatan Bangsa Indonesia

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau
minuman. 

Pangan menentukan tingkat kesehatan, kecerdasan, kualitas SDM, dan kemajuan suatu bangsa. “You are What you eat” (FAO dan WHO, 2000).

Suplai pangan global cenderung menurun akibat: (1) alih fungsi lahan pertanian, (2) Global Climate Change (GCC), (3) kerusakan lingkungan; (4) negara-negara produsen pangan mulai membatasi ekspor pangannya karena GCC dan pandemi Covid-19; (5) mafia pangan; dan (6) volatilitas geopolitik.

Seiring dengan pertambahan penduduk maka permintaan bahan pangan yang bakal terus meningkat.  Akibat pandemi Covid-19, dunia menghadapi krisis pangan (FAO, 2020). Adanya kekurangan/kelangkaan pangan, dapat memicu gejolak sosial dan politik, lebih jauh dapat memicu kejatuhan Rezim Pemerintahan.

Hubungan Tingkat konsumsi Protein Hewani (Daging & Seafood) dan Kemajuan Ekonomi Bangsa

The world needs to produce at least 50% more food to feed 9 billion people by 2050. But climate change could cut crop yields by more than 25%. The land, biodiversity, oceans, forests, and other forms of natural capital are being depleted at unprecedented rates. Unless we change how we grow our food and manage our natural capital, food security—especially for the world’s poorest—will be at risk. (World Bank 2016)

“Urusan pangan adalah hidup-matinya sebuah bangsa” (Pidato Presiden Soekarno pada Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Fakultas Pertanian, IPB di Bogor, 27 April 1952).

Suatu negara dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa tidak mungkin bisa maju, sejahtera, dan berdaulat, bila kebutuhan pangannya bergantung pada impor (FAO, 2000).

Sebagai negara maritim dan agraris tropis terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk berdaulat pangan, dan bahkan feeding the world (pengekspor pangan utama).

Di negara-negara maju dan makmur (seperti AS, Kanada, Denmark, Jerman, Jepang, dan Australia), Koperasi terbukti berperan dan berkontribusi signifikan bagi daya saing dan kemajuan ekonomi nasional, pemerataan ekonomi, dan kesejahteraan rakyatnya.

Di Indonesia, mestinya Koperasi menjadi lembaga ekonomi yang paling cocok (suitable) untuk meningkatkan kinerja unit usaha (bisnis) UMKM yang merupakan 99,99% total unit usaha, dan menyerap 97% total angkatan kerja nasional (KemenKop dan UKM, 2019).

Jika melalui Koperasi, kinerja UMKM membaik, maka 3 musuh bangsa (pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi) niscaya teratasi.

Sumber: Exploring The Cooperative Economy Report 2019 (ICA)

Wallahu a’lam

***disadur seperlunya dari makalah Webinar “SARASEHAN KOPERASI VIRTUAL SERI-2” DEWAN KOPERASI INDONESIA (DEKOPIN), halaman 25-39, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS tanggal 18 Juli 2020


kembali ke atas  |  indeks

•••

7 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

One response to “Nilai Strategis Sektor Pangan dan Koperasi bagi Kemajuan, Kesejahteraan, dan Kedaulatan Bangsa Indonesia”

  1. […] melalui Nilai Strategis Sektor Pangan dan Koperasi bagi Kemajuan, Kesejahteraan, dan Kedaulatan Bangsa Indon… […]

Tinggalkan Balasan ke Nilai Strategis Sektor Pangan dan Koperasi bagi Kemajuan, Kesejahteraan, dan Kedaulatan Bangsa Indonesia — infokito | Mon site officiel / My official websiteBatalkan balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca