Penemuan benda bersejarah berupa guci yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun sebanyak tiga buah masih menyisakan sebuah misteri.
Pasalnya, dua dari tiga buah guci yang ditemukan Juli, 50, pekerja yang hendak membuat fondasi masjid di Jalan Air Perikan, Kelurahan Nendagung, belum diangkat dan diteliti, apakah benda tersebut bersejarah atau tidak.
Bahkan ironisnya, dua buah guci yang masih tertanam di tanah dengan kedalaman sekitar 3 meter itu malah kembali ditimbun dan akan dicor untuk fondasi masjid. Padahal, guci-guci yang dinilai memiliki keunikan berupa peninggalan jaman prasejarah tersebut mempunyai nilai budaya yang tinggi jika diteliti lebih dalam.
Namun, upaya untuk melakukan penelitian terhadap guci-guci tersebut sampai saat ini belum dilakukan, misalnya menghentikan terlebih dulu pembangunan masjid sampai ada peneliti yang datang.
Berdasarkan informasi, Rabu (3/12), pada saat hendak melakukan penggalian fondasi untuk pembangunan Masjid Air Perikan, pekerja menemukan tiga buah guci yang berdekatan, satu di antaranya sudah diangkat oleh tukang yang ada, tapi pecah berkeping-keping.
Sementara, dua buah guci yang berukuran 50 cm dengan diameter 100 cm masih berada di dalam tanah. Namun pada saat ditemui, kedua guci yang ada sudah ditimbun dengan tanah dan hendak dicor untuk fondasi masjid, padahal guci-guci tersebut belum diteliti. Melihat hal itu, sikap pemerintah untuk melestarikan benda peninggalan bersejarah ternyata dinilai lamban.
Sementara itu, Plh Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Pagaralam Syafawi ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya belum tahu jika tempat penemuan guci tersebut kembali ditimbun.
Namun, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Wali Kota Pagaralam mengenai akan ditelitinya penemuan ketiga guci tersebut. (yayan darwansah/SINDO)


















Tinggalkan Balasan