Sebanyak 200 hektare sawah petani yang berada di Kelurahan Ulak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat II tidak dapat ditanami padi. Pasalnya, tiga saluran irigasi penyalur air utama jebol. Kendati kejadian tersebut sudah dilaporkan ke pihak tata kota Lubuklinggau. Namun, hingga kini belum juga diperbaiki.
Menurut Ketua Kelompok Taruna Tani, Handono, jebolnya tiga saluran irigasi sudah berlangsung sekitar 6 bulan terakhir. Irigasi itu rusak karena kondisinya sudah tua dan tidak ada pemeliharan intensif dari Pemkot khususnya Dinas PU.
“Setahu saya proyek irigasi ini dibangun pada tahun 70-an. Kemudian diadakan perbaikan pada 2005. Dalam proyek itu tertera adanya biaya pemeliharaan, tapi sampai detik ini tidak terealisasi dengan baik. Contohnya saja, banyak rumput-rumput liar di sepanjang jalur irigasi,” katanya, Selasa kemarin.
Dampak dari jebolnya irigasi itu, 200 hektare sawah petani mengalami kekeringan. “Selama ini kami menggantungkan nasib dari saluran air itu. Tapi, bagaimana kami mau menanam padi kalau sawahnya kering,” ujarnya.
Sebenarnya, berbagai upaya sudah dilakukan petani setempat untuk memerbaiki irigasi yang jebol, di antaranya dengan cara menambalkan karpet sebagai alas penyaluran air dan kayu durian sebagai penyanggahnya.
Namun itu hanya bertahan dua kali musim tanam, selebihnya tanggul tersebut mengalami kerusakan lagi oleh terjangan air. “Hampir lima kali kami memerbaikinya dengan cara mengumpulkan uang Rp25.000 per petani. Tapi, hasilnya cuma tahan sekitar 6 bulan,” katanya.
Hampir senada diungkapkan Sri, petani setempat, kurangnya perhatian Pemkot Lubuklinggau atas nasib petani membuat mereka bingung harus meminta tolong kepada siapa lagi. Terbukti, kata dia, tidak adanya perbaikan dari pemerintah. Tak hanya itu, beberapa kali surat permohonan petani setempat agar irigasi itu perbaikan tak pernah ditanggapi.
“Ini menunjukkan pemerintah daerah tidak berpihak kepada rakyat kecil. Kalau begini terus keadaannya kami tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami. Sedangkan pekerjaan lain kami tidak punya,” katanya. Supaya lahannya tidak terbengkalai, Sri dan petani yang lain mengganti tanamanya dengan palawija dan karet. Tetapi, sebagian di antara mereka sengaja membiarkan sawahnya menjadi semak belukar.
“Daripada kosong lebih baik saya tanami ubi kayu, jagung, dan kacang panjang,” tukasnya. Dia berharap kepada Pemkot Lubuklinggau dapat segera memerbaiki saluran irigasi yang jebol. Jika dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin petani menjadi enggan mananami padi dan lahan sawah menjadi sempit. (ade satia pratama/SINDO)


















Tinggalkan Balasan