Sebanyak 494,5 hektare sawah di tiga kecamatan di Kab Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) dipastikan mengalami gagal panen (puso). Pasalnya, hingga saat ini bibit bantuan pemerintah di wilayah tersebut belum dapat ditanam. Selain itu, juga masih menunggu air yang menggenangi areal persawahan milik penduduk di sana surut.Wakil Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hol tikultura (Wakadis THP) Provinsi Sumsel Leonardo Hutabarat mengatakan, mengacu data yang diterima pihaknya hingga pukul 18.00 WIB, Rabu (26/12), tercatat 494,5 hektare areal persawahan di Kec Semendawai Suku (SS) Barat, Kec Madang Suku I, serta Kec Cempaka,Kab OKUT, dinyatakan puso akibat banjir.
”Kami telah meminta Balai Perlindungan untuk memantau di seluruh kabupaten/kota untuk didapatkan data mengenai kabupaten-kabupaten mana lagi yang mengalami puso,” ujar Leonardo. Dia menambahkan, usia padi di sawah-sawah penduduk di seluruh Kab OKUT tersebut masih tergolong usia rendah berkisar sekitar 0–1 bulan.
Pihaknya akan mengupayakan bantuan benih tambahan untuk memenuhi kebutuhan petani di areal-areal persawahan yang terendam banjir di OKUT tersebut. Dengan berkoordinasi dengan pihak kabupaten,lanjut Leonardo, pihaknya akan menyalurkan bantuan benih tersebut. Meski diakuinya, penanaman bantuan benih tersebut nantinya akan mengalami keterlambatan karena harus menunggu air yang menggenangi ratusan hektare sawah itu surut terlebih dahulu.
”Kalau nanti areal sawah tersebut telah kondusif untuk ditanami, baru akan dibagikan bantuan benih padi tersebut. Paling-paling mengalami keterlambatan sekitar satu bulan,” ungkap Leonardo.
Dia mengatakan, rencana tanam 750.000 hektare sawah untuk 2008, dibandingkan kegagalan panen sekitar 500 hektare sawah di OKUT ini masih akan dapat tertutupi. Mengenai pengiriman benih padi bantuan tersebut masih akan menunggu koordinasi dengan kabupaten-kabupaten lain yang mengalami hal serupa, untuk kemudian pengiriman bantuan benih dilakukan secara serempak sembari menunggu kondusifnya kondisi areal persawahan yang tergenang itu.
Dihubungi terpisah, Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Trisbani Arief mengatakan, dari sekitar 800 hektare lebih lahan persawahan di Kab OKUT yang tergenang banjir, diperkirakan hampir separuhnya dipastikan mengalami puso.
”Biasanya kalau genangan yang bercampur lumpur ini berlangsung lama,padi yang saat ini dalam masa persemaian akan rusak,” ujar Trisbani, seusai mengikuti sidang Paripurna XI DPRD Sumsel di Gedung DPRD Sumsel Jumat kemarin. Namun, kata Trisbani, puso ini tak akan terlalu memengaruhi produksi padi Sumsel untuk 2008, karena sawah-sawah yang tergenang itu nantinya paling hanya akan mengalami keterlambatan panen dan tidak sampai gagal.
Sebab, setelah air yang menggenangi areal persawahan itu surut, biasanya petani akan segera melakukan penanaman ulang. Untuk saat ini,ungkap Trisbani, pihaknya baru mendata hanya sawah di wilayah Kab OKUT saja yang dipastikan mengalami puso. Meski demikian, ujar dia, tak menutup kemungkinan genangan air akibat curah hujan tinggi yang berdampak pada meluapnya debit air di Sungai Macak, Kab OKUT, ini dapat berpindah ke wilayah Kab Ogan Komering Ilir (OKI) mengikuti alur sungai.
”Saat ini yang tergenang adalah penanaman untuk masa produksi tahun 2008. Sementara, target produksi padi Sumsel untuk 2007 telah melebihi target sebanyak 11% dari target 1 juta ton lebih padi Sumsel,” ungkapTrisbani. Selain itu, mengenai hama keong yang menyerang ratusan hektare sawah di wilayah yang sama, ungkap Trisbani, pihaknya masih akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengantisipasinya. Sebab, hingga saat ini belum ditemukan teknologi kimia untuk membasminya.
”Kami masih menggunakan cara manual dengan memperdalam paritan di pinggir areal persawahan dan mengumpulkan keong-keong itu di sana. Hama keong ini biasanya timbul pada musim kemarau, tapi kalau saat ini timbul nanti akan kita cek lagi kenapa,”ujar dia.
Trisbani mengatakan, hampir seluruh wilayah persawahan di Sumsel terserang hama keong ini. Hanya saja, tingkat populasinya berbeda. Populasi ini, terus Trisbani, yang perlu dikendalikan, dan hal itu harus dilakukan secara beramai- ramai.
Sebab, hama tersebut selain sangat mengganggu saat masa persemaian padi, juga sangat cepat berpindah. Hama itu biasanya memakan pucuk padi sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman padi usia dini. (dedy sagita/sindo)


















Tinggalkan Balasan