Menjelang Visit Musi 2008, Kampung Kapitan di Kelurahan 7 Ulu, Seberang Ulu I, mulai berbenah. Pemerintah Kota Palembang membangun plaza dilengkapi taman dan sebanyak 118 lampu hias. Dipastikan, Kampung Kapitan yang selama ini kumuh akan lebih indah dan terang benderang.
Dermaga di tepi Sungai Musi, sekitar 200 meter dari Jembatan Ampera, itu telah dibeton. Badan jalan menuju Rumah Kapitan lantainya menggunakan konblok merah yang terlihat masih baru, tidak lagi meniti kayu gelam seperti tahun lalu ketika Sripo berkesempatan mampir ke kampung yang keberadaannya eksis sejak ratusan tahun lalu.
Tiang berukir setinggi tiga meter untuk listrik jalan menghias sisi kiri dan kanan jalan sepanjang 50 meter dari dermaga menuju gapura yang belum diberi nama.
Jumlah lampu jalan sekitar 25 unit –dari 108 total lampu jalan– yang akan dipasang lampu berkekuatan 150 watt di setiap tiang. Lewat gapura, di kiri kanan jalan ada perkampungan warga RT 50 RW 14. Rumah panggung berukuran besar dan masih dipertahankan keasliannya. Sekitar 100 meter ke depan, terlihat bangunan tua yang dikenal sebagai Rumah Abu. Bangunan ini berarsitektur Cina-Melayu dengan sentuhan arsitektur Belanda. Ini terlihat pada bagian pilar depan rumah yang terbuat dari beton berbentuk silinder, menggelembung di bagian tengahnya.
Satu bangunan berarsitektur Cina-Melayu di sebelahnya adalah Rumah Kapitan. Rumah ini aslinya berukuran 22 meter x 25 meter sebelum bagian belakangnya diberi bangunan tambahan sehingga memiliki panjang sekitar 50 meter. Bangunan induk yang berisi meja sembahyang dan foto-foto para Kapitan itu masih menampakkan keaslian pada bagian bangunannya. Demikian juga bagian atap yang memakai genting belah buluh (bambu). Rumah ini diperkirakan dibangun sekitar akhir tahun 1600-an. Rumah Kapitan dan rumah Abu dihubungkan semacam jembatan beratap di bagian teras dan belakangnya. Itu sebabnya wilayah pemukiman ini dinamakan Kampung Kapitan.
Rumah Kapitan dam Rumah Abu ini yang nantinya akan “dijual” pada wisatawan untuk mendukung pencanangan Palembang sebagai Kota Wisata Air. Kedua bangunan bersejarah ini terlihat tidak terawat dengan baik. Beberapa bagian bangunan terutama dinding banyak yang telah runtuh, termasuk cat putih dinding yang buram dan berlumut.
“Mungkin tahun depan baru direnovasi. Pembangunan memang tidak satu paket dengan proyek yang sedang kita kerjakan,” kata Efendi, Pelaksana Lapangan PT SBA, kontraktor yang sedang membangun plaza di areal tanah kosong tepat di depan Rumah Kapitan.
Plaza Kampung Kapitan luasnya sekitar 83 m x 12,5 m. Nantinya akan dilengkapi dengan taman dan 118 unit lampu taman yang masing-masing tiang diberi lampu 100 watt. Untuk menarik minat wisatawan, dibangun juga relief bercat merah kombinsi hitam di dinding Lr Seko. Relief ini disebut Relief Bayangan Air yang menggambarkan kerasnya gelombang air Sungai Musi. Pembanguan selesai 15 Desember mendatang.
Warga RT 50 setempat menyambut antusias pembangunan plaza itu dengan harapan limpahan uang dari wisatawan yang berkunjung. Mereka telah membenahi letak bangunan rumah menghadap ke jalan membuka peluang berdagang souvenir, meski hingga kemarin belum ada kepastian bantuan modal dari Pemerintah Kota Palembang. “Kemarin katanya ada bantuan Rp 8 juta. Kita menunggu saja, tidak diberi bantuan modal tidak apa-apa. Yang penting nanti kita dibolehkan berdagang,” kata Ketua RT 50. (ahf/sripo)


















Tinggalkan Balasan ke ariBatalkan balasan