Pengamat Ekonomi Amidi menerangkan, dilihat dari potensi sumber daya alam yang sangat memungkinkan, Provinsi Sumsel dinilai berpotensi dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).“Kita lihat untuk komoditas ekspor, seperti karet dan sawit cukup luas. Sedangkan untuk migas sendiri,seperti gas dan batubara cukup menjanjikan. Bahkan, didukung sejumlah pabrik pengolahan, meski industri yang berskala kecil masih belum maksimal berada di Sumsel,” jelasnya.
Dia menambahkan, untuk ukuran Sumsel sangat berpotensi, asalkan adanya sikap proaktif pemprov untuk membaca peluang. Untuk menjadi KEK, perlu kriteria khusus, seperti akses infrastruktur, keberadaan transportasi, pelabuhan, serta pasar luar dan dalam negeri. Seharusnya Sumsel, harus mempunyai kriteria tersebut, sehingga dalam angkutan melakukan kegiatan ekspor-impor tersebut berjalan lancar.
Amidi menyatakan, potensi tersebut harus dibaca sebab hambatan dan kelemahan Sumsel masih terkendala sarana transportasi. Dia menilai, jalan penghubung di sentral produksi masih sangat minim. Belum lagi, sambung dia, Pelabuhan Tanjung Api-Api hingga kini pembangunannya masih belum jelas. Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumsel Ahmad Rizal menilai, selama ini iklim investasi belum maksimal.
Dia menilai, saat ini pemerintah masih membebankan perusahaan/investor untuk membangun jalan di sentra produksi. “Kalau hal ini masih terjadi, dikhawatirkan perusahaan luar yang hendak berinvestasi enggan menanamkan modalnya di Sumsel. Apalagi, perusahaan tersebut sudah sangat terbebani dengan tagihan dan distribusi setiap bulannya,”ungkapnya. (irwan wahyudi)


















Tinggalkan Balasan