Memasuki kawasan sentra industri kerajinan khas Palembang di Jl Faqih Jalaluddin (guru-guru) belakang Masjid Agung Palembang, berjajar toko yang didominasi membuat dan menjual kerajinan suvenir khas Palembang. Namun mereka mengaku mengalami kesulitan dalam pemasarannya.
Hal ini dikarenakan menurunnya jumlah pengunjung baik lokal maupun luar. Apalagi ditambah dengan adanya krisi global saat ini. Hal ini seperti yang diungkapkan Noni Rahayu (20), salah satu pemilik Toko Kedaton yang menjual beragam suvenir khas Palembang.
“Kami ini mengalami kesulitan dalam pemasaran. Jika saja pemerintah mau membantu dan memasarkan produk lokal hingga ke luar negeri, tentunya kami akan merasa sangat terbantu. Seperti dulang laker ini per bulan paling-paling hanya laku 25 buah,” kata Noni kepada Sripo, Sabtu (6/12).
Hal yang sama juga diungkapkan Yuna (45), pemilik toko Atika Maika. “Kalau pemasaran agak sulit. Malah lebih sering pembelinya datang langsung ke sini dan memesan kepada kita. Barulah barangnya kita kirim ke tempat yang mereka inginkan,” kata Yuna.
Menurutnya, selain permasalahan pemasaran. Mereka pun membutuhkan tambahan modal untuk melebarkan usahanya. Apalagi usaha yang sudah ditekuninya selama 20 tahun dan merupakan turun temurun masih terus memertahankan khas kota Palembang. Diharapkan pemerintah peka dan bisa memberikan bantuan kepada mereka.***yusnitasari-sripo











![[2026] Proyek Perluasan dan Pendalaman Kolam Retensi Simpang Polda](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2018/07/logoagplg.jpg)









Tinggalkan Balasan