Sekitar sebulan terakhir, sebagian petani di Kecamatan Muarabeliti, Musirawas, kesulitan memasarkan beras hasil panen mereka. Jika selama ini, selalu ada pedagang pengumpul yang menampung beras saat panen, namun belakangan ini nyaris tak ada pedagang pengumpul yang datang membeli beras. Akibatnya, beras petani jadi menumpuk.
Berkurangnya pembeli ini disebabkan harga beras setempat lebih tinggi dibanding dari luar daerah. Pantauan Sripo di beberapa rumah petani di Kecamatan Muara Beliti, Minggu (6/4), menunjukkan tumpukan karung beras banyak terlihat di rumah. Salah seorang petani, di Desa Air Satan Kecamatan Muarabeliti, Tarinah (35) yang baru panen sekitar dua pekan lalu mengakui saat ini, ia kesulitan untuk memasarkan beras hasil panennya karena tidak ada pembeli.
“Sekarang sepi Mas. Biasanya saat panen sudah ada beberapa pedagang pengumpul yang datang menawarkan beras. Bahkan, terkadang kita tak sempat lagi bawa ke rumah saat habis digiling karena di penggilingan sudah menunggu pembeli yang nawar dan karena cocok langsung dilepas. Tapi sekarang nyaris tidak ada. Beras jadi menumpuk,” ujar Tarinah sambil menunjukkan tumpukan karung beras di rumahnya.
Tarinah dan suaminya Sukiman, menggarap lahan sekitar tiga perempat hektar. Dengan lahan seluas itu, biasanya mereka mampu menghasilkan beras sekitar 1,5 ton. Namun sudah lebih dari sepekan panen, baru sekitar satu kuintal yang dikeluarkan. Itu pun menurutnya, bukan laku terjual tapi dioper atau dititipkan di toko kenalannya, dengan patokan harga Rp 4.000 per kilogram. Itu pun jika ada yang beli. Di rumahnya, masih menumpuk sekitar 1,4 ton beras, yang belum laku terjual.
Hal senada juga dikatakan petani lainnya, Jabar (45). Menurutnya, memang saat ini pembeli sangat sepi. Sudah lebih dari sebulan panen, namun tak satu pun pedagang pengumpul yang datang menawarkan beras hasil panennya. Padahal selama ini, sebelum panen, sudah banyak yang menawarkan berasnya. Karena kini berasnya tak laku terjual, Jabar terpaksa menjual secara ketengan, dan dijual keliling dengan cara menggunakan sepeda motor.
“Kebetulan anak menantu saya pedagang sayur keliling pakai motor. Jadi untuk memasarkan beras, saya titipkan anak saya, sambil ia jual sayur juga jual beras. Tapi dengan cara ini tak banyak yang bisa dijual, paling beberapa kilogram per hari. Tapi kalau tidak dengan cara seperti ini, darimana saya mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Kami sekeluarga mengandalkan hasil penjualan beras saat panen tapi karena tak ada pembeli, terpaksa jual ketengan,” keluhnya.
Pedagang beras di Pasar Inpres Lubuklinggau, mengakui dalam belakangan ini mereka tidak mengambil beras dari petani lokal. Mereka memasok beras dari luar daerah seperti dari Belitang dan Palembang. Salah seorang pedagang beras, Ferry, mengatakan, mereka tak memasok beras lokal karena harganya beberapa waktu lalu masih lebih tinggi daripada harga beras dari luar.
“Tapi sekarang, harga beras dari luar seperti Belitang juga sudah mulai tinggi. Karena itu, kami mulai memasok beras lokal karena harganya sudah mulai turun dan sudah di bawah harga beras dari luar. Sudah beberapa hari ini, kami mulai ambil beras dari petani lokal,”kata Ferry. (zie/SRIPO)


















Tinggalkan Balasan