Taman Wisata Alam Punti Kayu mengaku kesulitan dana operasional untuk pemelirahaan hewan hasil sitaan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang dititipkan di tempat tersebut. Selama ini BKSDA sekadar mentitipkan sedangkan seluruh biaya ditanggung TWA Punti Kayu.
Informasi yang dihimpun Sripo di lapangan, beberapa satwa hasil sitaan yang telah diserahkan dalam kondisi sakit. Diantaranya, Kukang atau Malu-malu (Nyeticebus Councang) berpenyakit saluran pencernaan, beruang madu berpenyakit kulit dan rusa yang mengalami luka leher. Beberapa satwa bahkan ada yang sampai mati misalnya, ular, burung dan siamang.
Humas Punti Kayu, Toni menjelaskan setelah hewan sitaan diserahkan, dana operasional pemeliharaan
semuanya ditanggung pengelola TWA Punti Kayu.
Hingga Kamis (10/4) sedikitnya terdapat 11 satwa sitaan yang dititipkan di Punti Kayu. Terdiri dari tiga beruang madu, dua kukang, tiga rusa Sambar dan tiga siamang.
“Kita semua yang menyiapkan makanan, upah pemeliharaan dan pelestarian,” tandas Toni yang tidak mau menyebutkan angkanya secara pasti.
Hingga saat ini TWA Punti Kayu mengoleksi sejumlah satwa. Koleksi unggas terdiri dari burung kasuari, bangau dan elang. Ada juga aneka jenis ayam yakni ayam kalkun, ayam kapas dan ayam kate.
Selain itu ada koleksi buaya muara, siamang, monyet, orang utan, kukang dan beruang madu. Tiap
satwa biasanya cara pemeliharaan dan pola makannya bervariasi. Misalnya, beruang memakan campuran nasi dan susu kental manis.
“Itu saja sudah butuh dana berapa,” kata Toni mencontohkan. (Dewi Handayani/SRIPO)


















Tinggalkan Balasan