Enam dari sembilan jembatan di Provinsi Sumsel yang menggunakan konstruksi Calender Hamilton (CH) segera dibangun tahun ini. Sementara tiga jembatan lagi akan direkonstruksi pada tahun 2009. Adapun total alokasi dana yang disesiakan untuk enam jembatan sebesar Rp26 miliar yang diambil dari APBN 2008. Kepala Dinas PU Bina Marga Prov Sumsel Dharna Dachlan mengatakan,semua jembatan yang berkonstruksi CH akan diganti dengan konstruksi tes press (cor beton). Namun, karena keterbatasan anggaran, maka tahun ini baru dapat dibangun sebanyak enam jembatan.
”Tiga lagi Insya Allah tahun 2009, memang belum ada pemberitahuan dari pusat akan dianggarkan tahun 2009.Tetapi, kita tetap optimistis dan akan jemput bola untuk mengejar anggaran itu,” katanya.
Dharna menuturkan, alokasi anggaran itu cukup besar. Apalagi dengan tanggung jawab Dep PU untuk memelihara, memperbaiki dan membangun infrastruktur transportasi yang masih harus diperbaiki. Dia menegaskan, jembatan dengan konstruksi CH yang dibangun pada tahun 1970-an mendesak untuk direkonstruksi karena sudah tidak mampu menahan beban tonase kendaran yang terus bertambah.
Dia melanjutkan, akhir tahun 2009 atau 2010 diharapkan tidak ada lagi jembatan di Sumsel yang menggunakan kostruksi tua tersebut. Sehingga mobilitas masyarakat dengan menggunakan jalur darat di Sumsel semakin lancar dan optimal.
”Terkadang kendaraan dengan tonase puluhan ton secara berebutan memasuki jembatan. Hal tersebut sangat berbahaya mengingat sebagian jembatan konstruksi CH sudah tidak mampu lagi menahan beban,” tukasnya.
Kepala Subdinas Bina Program Dinas PU Bina Marga Sumsel M Yusuf Usman menambahkan, kesemua jembatan yang diangun tersebut berada pada jalur jalan lintas tengah yang menghubungkan Lahat,Tebing Tinggi dan Lubuk Linggau.
”Sebelumnya ada 11 jembatan tua yang sudah harus diganti. Jembatan dengan konstruksi CH ini dibangun tahun 1970-an.Secara teknis, usia jembatan CH berkisar 30 tahun lebih. Persoalannya kendaraan yang lewat terkadang melebihi kapasitas jembatan,” ungkapnya. Dia menambahkan, kendaraan bertonase berat kerap berebut masuk jembatan.
Parahnya lagi ketika di atas jembatan terkadang para sopir berhenti dan mengobrol dengan sopir lain, sehingga kendaraan berat bertumpuk di atas jembatan.Kondisi jembatan tua tersebut, lanjut dia, sebagian besar sudah anjlok ke bawah dan ketinggianya lebih rendah dari ketinggian jalan.
”Untuk itu, jembatan tersebut harus diganti dengan konstruksi beton yang memiliki kekuatan dan daya tahan yang lebih kuat.Kita tidak ingin mengambil resiko yang dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan,” tukasnya. (berli zulkanedi/SINDO)


















Tinggalkan Balasan