Kab Lahat saat ini masih kekurangan banyak tenaga bidan dan perawat. Dari 350 desa yang ada di Kab Lahat, jumlah bidan hanya 287 orang, sementara perawat 92 orang. Kepala Subbagian (Kasubag) Kepegawaian Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Lahat Imanazori mengungkapkan, dampak dari kekurangan tersebut sangat memengaruhi tingkat pelayanan kepadamasyarakat.Warga di tingkat kecamatan atau desa di KabLahat banyak yang mengeluhkan lambatnya pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas setempat. Karena kekurangan tenaga, seorang bidan dan perawat terpaksa harus bertugas ekstra keras untuk melayani 1–5 puskesmas dalam sehari. Bahkan, ada juga bidan yang harus bekerja untuk satu kecamatansekaligus.
“Dari data yang saya miliki, untuk bidan PTT (pegawai tidak tetap) sebanyak 123 orang dan bidan PNS hanya 164 orang. Sedangkan perawat tidak ada dari PTT, tetapi mereka gabungan dari PNS dan tamatan D-3 sebanyak 92 orang,” kata dia, Minggu (25/11) kemarin. Dia menambahkan, seharusnya satu puskesmas itu memiliki tiga perawat. Begitu pula dengan bidan, idealnya harus berjumlah tiga orang di setiap polindes. Apabila formasi itu telah terpenuhi, kemungkinan besar tidak ada lagi bidan atau perawat yang kerjanya berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lain.
“Sekarang ini masih juga ada bidan dan perawat yang tugasnya merangkap di bagian administrasi untuk membuat laporan. Biasanya mereka buat laporan itu setiap Sabtu, karena Senin laporan itu akan diserahkan ke Dinkes Lahat,” katanya. Untuk mengatasi kekurangan jumlah bidan dan perawat ini, Dinkes Lahat selalu mengajukan permohonan tertulis kepada Pemkab Lahat, Dinkes Provinsi Sumsel, bahkan ke Departemen Kesehatan di Jakarta. Namun, hingga sekarang tak ada jawaban terkait permintaan penambahan formasi bidan dan perawat.
Imanazori mengaku, pada 2007 ini pihaknya belum mengetahui apakah ada formasi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk tenaga bidan dan perawat di Kab Lahat, begitu juga untuk bantuan tenaga bidan PTT dari Dinkes Provinsi Sumsel. “Kalau bidan PTT itu setiap tahunnya pasti ada, tapi jumlahnya masih sangat sedikit, karena mereka itu sistem kontrak dan yang menugaskan dan mengaji mereka dari pemerintah pusat langsung,” ujarnya. Selain kekurangan tenaga bidan dan perawat, ungkap Imanazori, Kab Lahat juga kekurangan tenaga dokter untuk puskesmas.
Di Kab Lahat saat ini memiliki 31 puskesmas, dengan jumlah dokter hanya 17 orang yang terdiri dari 5 dokter PNS dan 12 dokter PTT. “Seharusnya setiap puskesmas itu memilik dua orang dokter. Jadi tugasnya satu dokter tindakan dan satunya sebagai kepala puskesmas,” tukasnya. Menurut dia, salah satu permasalahan dasar, jumlah dokter di Kab Lahat selalu berkurang karena banyaknya dokter PTT yang masa tugasnya hanya beberapa bulan sampai setahun. Setelah itu, pindah tugas ke tempat lain.
Dia berharap kepada pemerintah pusat, khususnya Menteri Kesehatan, agar memperbanyak penerimaan formasi untuk tenaga kesehatan bidan, perawat, dan dokter ke daerah-daerah yang dinilai kekurangan tenaga kesehatan. “Mudah-mudahan pada 2008–2009, Kab Lahat tidak lagi kekurangan tenaga kesehatan bidan, perawat, dan dokter. Sebab, jika setiap tahun mengalami kekurangan, pengaruhnya sangat besar terhadap pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh Kab Lahat,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Lahat Lazuardi Yazid membenarkan jika Kab Lahat kekurangan tenaga bidan, perawat, dan dokter. “Masih sangat kurang sekali bidan dan perawat di sini.Kita hanya bisa menunggu saja kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah terkait formasi itu,” katanya. (CR-08/sindo)


















Tinggalkan Balasan ke Yanita (tata)Batalkan balasan