Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto meminta umat Islam berhat-hati dengan ajaran Alquran Hijau. Seperti namanya, kelompok tersebut memakai Alquran transliterasi Arab-Latin dengan model kanan kiri yang bersampul hijau.
Sekretaris Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto, Nur Rahmat mengatakan, ajaran tersebut awalnya dikenal di Kediri. Namun saat ini, aliran tersebut berpusat di salah satu lokasi di kawasan Wana Wisata Padusan Air Panas, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Demikian seperti diberitakan detikcom. Informasi tersebut, kata Rahmat, diperolehnya dari seorang koleganya yang berdomisili di Kediri.
“Tapi pusatnya malah di Pacet. Mereka juga disebut mambalah,” kata Rahmat. Dia sendiri tidak memahami arti kata ‘mambalah‘ itu.
Sejauh ini, Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto sudah mengamati sebuah lokasi yang diduga sebagai tempat pengajian komunitas tersebut. Namun, mereka belum mengetahui secara pasti di mana markas aliran tersebut.
“Secara pasti, kami belum tahu. Tapi ada satu tempat, yang kami curigai. Karena mirip dengan yang disebutkan teman saya di Kediri,” kata Rahmat.
Namun belakangan ini, terutama setelah maraknya ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah, tempat tersebut jarang ditempati. Rahmat menegaskan, Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto, belum menyatakan komunitas tersebut sebagai ajaran sesat.
Hanya saja, ajaran tersebut berbeda dengan mayoritas. Perbedaan terletak pada Alquran yang dikaji dan tidak mengakui hadits. Selain itu, kelompok ini juga mengganti salam ‘assalamualaikum’ menjadi ‘salamun alaikum’. Komunitas ini juga mengenal pembaiatan yang disebut ‘mitsaq‘ atau mandi air kembang, dengan julukan abi untuk lelaki dan umi untuk perempuan, usai dibaiat.
Dewan Masjid sudah menyampaikan temuan itu ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto. “Jika memang nantinya dipastikan ajaran itu sesat dan bertentangan dengan ajaran Islam, maka ajaran mereka harus dihentikan tanpa kekerasan,” jelas Rahmat. (bdh/ken/detik)


















Tinggalkan Balasan