Pendangkalan Sungai Musi dinilai menjadi salah satu faktor penghambat kegiatan investasi di Kota Palembang. Alasannya, pendangkalan menyebabkan kapal-kapal pengangkut berkapasitas besar tidak bisa lagi menyeberangi Sungai Musi.
Demikian dikatakan H Arsuady HR, Kepala Dinas Penanaman Modal Daerah (PMD) Kota Palembang, Rabu (26/9), saat ditemui di ruang kerjanya. Menurut Arsuady, pendangkalan yang terjadi di Sungai Musi disebabkan oleh endapan lumpur yang terbawa arus dari wilayah hulu. Endapan tersebut terus bertambah setiap tahun.
“Hal itu mengakibatkan kedalaman Sungai Musi hanya berkisar 14-20 meter. Sehingga, kapal-kapal pengangkut barang berkapasitas besar tak bisa lewat Sungai Musi,” ujar Arsuady. Padahal, lanjutnya, investor yang hendak masuk ke Palembang justru menjadikan angkutan sungai sebagai pertimbangan penting. Ini karena angkutan barang melalui sungai lebih murah jika dibandingkan dengan angkutan darat dan udara.
“Pemerintah memang sudah memprogramkan pengerukan sungai. Namun belum maksimal karena biayanya sangat mahal,” kata dia.
Di Palembang, sektor investasi yang paling diminati meliputi kelapa sawit, karet, kelapa, dan properti. Khusus properti, Arsuady menjelaskan perkembangannya sangat pesat, dengan bentuk mulai dari mal, ruko, sampai perumahan.
Ditambahkannya, Kota Palembang masih diminati investor karet dan kelapa sawit. Dalam waktu dekat, ada empat perusahaan yang akan menanamkan modalnya di Kota Palembang. Salah satu perusahaan yang nilai investasinya paling besar adalah PT Hok Tong, yakni 48,435 juta dollar AS. Perusahaan ini akan menyerap 350 pekerja.
Selain itu, lanjut Arsuady, langkah untuk mendukung kegiatan investasi ini yakni adanya pembangunan Pelabuhan Tanjung Siapi-api. Pelabuhan ini bertujuan untuk mengatasi persoalan pendangkalan, sehingga investor tetap bisa menggunakan kapal untuk angkutan barang. (ONI/kmps)


















Tinggalkan Balasan