Pemprov Sumsel melalui Wakil Kepala Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Prov Sumsel Ir Sudirman Tegoeh mengatakan untuk mengatasi kemiskinan diambil pola transmigrasi lokal. Pada tahap awal pilot project Pemprov ini akan memberikan kesempatan kepada 450 kepala keluarga (KK) untuk tiga kabupaten, yakni Kab Musi Rawas di Desa PAU, Kab Ogan Ilir (OI) di Desa Lebak Pukas, dan Kab Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) di Desa Makagin.
”Sekarang sedang dalam tahap pembangunan daerah pemukiman sebagai pengembangan wilayah di tiga kabupaten tersebut. Sebelum pola transmigrasi ini dilakukan, setiap KK akan diberikan pelatihan kewirausahaan selama satu bulan,” ungkap dia, Sabtu (22/9) kemarin.
Menurut dia, konsep yang akan diterapkan dengan memberikan lahan secara gratis kepada 450 KK tersebut. Satu KK akan mendapat sebanyak 2 hektare untuk lahan usaha dan 1/2 hektare untuk lahan perkarangan.” Dalam pembukaan lahan, dilakukan para transmigran lokal itu sendiri dan diberikan upah tebas. Dari 2 hektare lahan tersebut, bisa dibangun tempat ternak, tanaman pangan, kolam ikan. Anggarannya nanti diserahkan kepada masing-masing dinas,” tukas dia.
Oleh karenanya, telah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumsel sebesar Rp17 miliar pada 2007. Tiap kabupaten pun, jelas dia, menyiapkan dana pendamping masing-masing sebesar Rp2 miliar. Program ini, ujarnya, dapat mengurangi data-data penduduk miskin bila dilakukan dengan terpadu. ”Dari tiga daerah tadi, dua kabupaten merupakan lahan basah dan satunya lahan kering, yakni di OKUS,” tukas dia.
Sebelumnya, Asisten II Setda Provinsi Sumsel Budi Raharjo menjelaskan, program transmigrasi lokal ini nantinya dapat memberdayakan masyarakat tidak mampu. Lokasi awal 2007 diprioritaskan pada tiga kabupaten yang dinilai masih banyak masyarakat miskinnya.
”Kalau tiap KK memperoleh 2,5 hektare dan sebagian besar untuk perkebunan, tentu dapat kita lihat hasilnya beberapa tahun kemudian. Pada lahan basah kita prioritaskan tanaman kelapa sawit, sedangkan lahan kering bisa kita tanami karet,” ujar dia. Dari 2,5 hektare lahan tersebut, ujar dia, akan terdiri dari berbagai macam jenis komoditas. Misalkan ada perkebunan, peternakan, perikanan,tanaman obat, dan sayuran.
Lahan ini nantinya dapat disebut mix farm yang diupayakan dapat meningkatkan perekonomian para transmigran lokal. “Upaya kita sebaik mungkin bagaimana menurunkan angka kemiskinan dengan pemberdayaan masyarakat,” tuturnya. [sindo/infokito]




















Tinggalkan Balasan ke khamdahBatalkan balasan