Tokoh yang kini dikenal dengan nama Ibnu Arabi disepakati oleh penulis buku-buku biografi klasik bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Hatim ath-Tha’i. Dengan begitu, nama aslinya adalah Muhammad. Sementara Ibnu Arabi adalah nama terkenalnya.
Ath-Tha’i adalah nama kabilah Ibnu Arabi. Kabilah ath-Tha’i atau Thayyi dikenal sebagai kabilah intelek dan heriok sejak are pra-Islam hingga pasca Islam. Abdullah bin Hatim merupakan pendiri kabilah ath-Tha’i yang dikenal dengan kepahlawanan, loyalitas pada nilai, dan kecerdasannya di bidang ilmu pengetahuan. Saudara kandung Abdullah bin Hatim ath-Tha’i yang bernama Udai bin Hatim ath’Tha’i adalah pejuang Islam. Kakak beradik itu putra dari Hatim bin Abdullah ath’Tha’i, seorang penyair di zaman pra-Islam (yang kerap disebut dengan era Jahiliyah), yang wafat tahun 605 M dan dikubur di bukit Awaridl. Hatim bin Abdullah ath’Tha’i tidak hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga dikenal sebagai pemberani yang dermawan sehingga muncul aforisme “ma ajwad min hatim ath’tha’i” (tak ada yang lebih baik daripada Hatim ath-Tha’i). Bila selanjutnya Ibnu Arabi memiliki kecerdasan, kedermawanan dan bakat bersyair, kemungkinan besar semua itu keturunan dari nenek moyang dan bentukan keluarganya.
Keluarga Ibnu Arabi adalah keluarga terhormat dan kaya raya, tetapi bertakwa dan asketis. Kakek Ibnu Arabi yang bernama Muhammad bin Ahmad al-Hatimi ath-Tha’i adalah salah satu hakim dan ulama di Andalusia. Ayah Ibnu Arabi yang bernama Ali bin Muhammad al-Hatimi ath-Tha’i adalah pemuka di bidang fikih, hadis dan tasawuf yang saleh, zuhud, bertakwa, rajin membaca al-Quran, dan memintanya mengikut kebiasaan sang ayah itu. Ibu Ibnu Arabi yang bernama Nur adalah perempuan saliha, takwa dan wara’, yang menyuruh Ibnu Arabi berkhidmat kepada Syekhakh (syekh perempuan yang saleh) yang bernama Fatimah binti al-Matsna al-Qurthubi. Ibnu Arabi juga memiliki tiga paman sufi yang zuhud. Pamannya yang pertama bernama Abu Abdillah Yahya bin Yaghan at-Tunisi, seorang fakih yang sempat menduduki jabatan tinggi di Tilimsani, Aljazair, namun meningalkan jabatan tersebut demi menjalani hidup asketis (asketisme, dari bahasa Yunani: ἄσκησις áskesis, “olahraga” atau “latihan”, atau pertarakan adalah gaya hidup yang bercirikan laku berpantang kenikmatan indria demi mewujudkan maksud-maksud rohani-wikipedia). Pamannya yang kedua bernama Abu Muslim al-Khulani, orang yang senantiasa ber-mujahadah di malam hari, hingga memukuli tubuhnya untuk bisa tetap terjaga. Pamannya yang ketiga bernama Abdullah bin Muhammad bin ‘Arabi, seorang sufi di Andulusia. Hidup bersama keluarga yang sedemikian saleh merupakan dasar kesalehan Ibnu Arabi.
Namun Ibnu Arabi tidak serta merta menjadi sufi seperti yang yang dikenal sekarang. Saat kecil dan remaja, Ibnu Arabi belum tertarik pada dunia tasawuf. Berburu binatang dan bersastra adalah kegemaran Ibnu Arabi remaja. Ibnu Arabi mulai menggeluti kehidupan sufistik mulai sekitar umur 21 tahun atau sebelum tahun 580 H (1184 M). Penyebab transformasinya ke dunia mistik berbagai hal, antara lain:
- Ibnu Arabi menikah dengan Maryam binti Muhammad bin Abdun bin Abdurrahman al-Baja’i, perempuan yang sempurna secara lahir dan batin, tubuh dan jiwa, yang dengan ketakwaan, kewara’an dan kemampuan intuitif dan spiritualnya mengarahkan Ibnu Arabi ke kehidupan religius.
- Ibnu Arabi memiliki ibu saleh yang selalu mendoakan Ibnu Arabi menjadi pria saleh.
- Ibnu Arabi memiliki ayah yang saleh dan berkaramah, seperti menyembuhkan Ibnu Arabi dari penyakit parah dengan membaca surat Yasin, mengetahui kapan dirinya akan meninggal dunia, dan wafat dalam kondisi tubuh penuh cahaya.
- Ibnu Arabi mengalami pengalaman-pengalaman spiritual saat berkhalwat dan berziarah kubur, seperti berjumpa dengan para bijak bestari dari India, Persia dan Yunani (seperti Pythagoras, Empedocles dan Plato) hingga menghayati inti sari agama-agama dan aliran-aliran pemikiran.
- Ibnu Arabi hidup di lingkungan intelektual-spiritual yang bagus, hingga memungkinkannya berjumpa dengan filsuf hebat sekaliber Ibnu Rusyd (Averroes/Ibnu Rushd), wali abdal bernama Musa bin al-Badran, dan berguru ke ulama-ulama terkemuka saat itu.
Ibnu Arabi lahir hari Senin, 17 Ramadhan 560 H yang bertepatan dengan tanggal 28 Juli 1165 M di Murcia. Murcia berada di Andalusia (Spanyol) Tenggara, yang dibangun oleh Bani Umayyah dan memiliki banyak bangunan masjid, institusi pendidikan, dan taman taman. Kala Ibnu Arabi lahir, Murcia dipimpin oleh Sultan Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad bin Mardanisy. Pemimpin Murcia saat itu berada dalam naungan Khlaifah Dinasti Abbasiyyah ke-32, yaitu al-Mustanjid Billah, alias Abu Muzhaffar Yusuf bin al-Muqtafa (510-566 H / 1116-1170 M). Ketika Ibnu Arabi berumur 8 tahun (tahun 568 H), Murcia dikuasai oleh Mohad (Muwahidun) sehingga keluarga “Muhammad” yang memiliki jabatan di Murcia pun hengkang dari tempat itu dan pindah ke Sevilla, salah satu pusat ilmu dan peradaban di Andalusia saat itu.
Di Sevilla, Ibnu Arabi belajar al-Quran, fikih, hadis, tasawuf, dan filsafat. Guru Ibnu Arabi dalam mengaji al-Quran adalah Muhammad bin Khalaf bin Shafi al-Lakhmi. Ibnu Arabi belajar pada Muhammad al-Lakhmi di Masjid Qaus al-Haniyah di Sevilla, Andalusia tahun 578 H. Belum mencapai usia 10 tahun, Ibnu Arabi sudah menguasai ilmu qiraat al-Quran. Guru Ibnu Arabi berikutnya di bidang hadis dan fikih adalah Ibnu Zarqun, al-Hafizh bin al-Jad, Abu al-Walid al-Hadlrami dan asy-Syaikh Abu al-Hasan bin Nashar. Di masa muda, Ibnu Arabi juga mempelajari simbolisme dan hermeneutika aliran neo-empedokles (sintesis pythagoreanisme, orphisme dan hinduisme) dari Abu Abdillah al Ghazal (murid bin Arif, tokoh terkenal aliran tersebut setelah Ibnu Masarah).
Ibnu Arabi sempat berjumpa dengan Abu al-Walid Ibnu Rusyd, filsuf dan ilmuwan yang menjadi dokter utama sang Sultan dan pakar hukum Islam yang menjabat menjadi hakim agung di Cordoba. Saat itu, Ibnu Arabi masih remaja, belum berjenggot dan berkumis, tetapi sudah mengalami berbagai penyingkapan spiritual dalam khalwat-khalwatnya. Ibnu Rusyd tertarik untuk berjumpa dengan Ibnu Arabi. Ayah Ibnu Arabi mengajak Ibnu Arabi menjumpai Ibnu Rusyd. Kepada Ibnu Arabi yang masih remaja, Ibnu Rusyd bertanya dengan hormat, “Bagaimana Anda mendapatkan penyingkapan spiritual dari Tuhan? Apakah anugerah itu diberikan oleh pemikiran teoritis (an-nazhar)?” Ibnu Arabi pertama menjawab “Ya”, lalu mejawab “Tidak”. Hal itu menunjukkan persamaan serta perbedaan antara filsafat Ibnu Rusyd dan tasawuf-falsafi Ibnu Arabi.
Mulai umur 30 tahun (tahun 590 H), Ibnu Arabi berkelana mencari dan menyebarkan ilmu di berbagai negeri. Mula-mula, Ibnu Arabi mengunjungi tempat tempat di kawasan Andalusia, Spanyol yaitu Moron, (sambil memulai buku pertamanya berjudul at-Tadbirat al-Ilahiyah), Marchana, dan Medina Azahara (Cordoba). Tahun 590 H, Ibnu Arabi berkelana ke Afrika, mulai dari Bejaia hingga Tunisia lalu pulang ke Sevilla, berangkat lagi ke Tlemcen (Aljazair), lalu ke Tunisia. Tahun 591 H, Ibnu Arabi pergi ke Fez, Maroko, lalu kembali ke Andalusia, karena kerusuhan perebutan kekuasaan di Fez.
Tahun 593 H, Ibnu Arabi pergi ke Fez untuk belajar dan ber-mujahadah terutama di Masjid al-Azhar di Fez, Maroko, dimana Ibnu Arabi mengalami tajali (tersingkap atau terbukanya hal-hal yang bersifat gaib-keterangan) pada saat shalat Ashar. Tahun 594 H, Ibnu Arabi pulang ke Murcia melalui Ceuta dan Gibraltar. Tahun 595 H, Ibnu Arabi memasuki Granada dan tinggal di Almeria hingga dua tahun sambil menulis buku Mawaqi’i an-Nujum. Tahun 597 H, Ibnu Arabi memasuki Marakesh, pergi ke Fez, lalu ke Tlemsen, lalu tinggal lama di Tunisia, untuk menulis beberapa buku antara lain Insya’ ad-Dawair wa Jadwal, ‘Unaqa al-Maghrib fi Ma’rifah Khathm al-Awliya wa Syams al-Maghrib.
Umur 38 tahun (598 H / 1193 M) adalah awal mula Ibnu Arabi meninggalkan negeri Barat (Spanyol/Andalusia) untuk selamanya, lalu berkelanan dan menetap di kawasan Timur. Secara eskplisit, Ibnu Arabi mengatakan bahwa tujuannya adalah ibadah haji. Namun secara implisit, maksud utamanya adalah mencari tempat tinggal di negeri lain, sambil menjauh dari kawasan Barat yang atmosfer politik dan agamanya saat itu kurang kondusif. Pemikir esoteris yang berpengaruh seperti Ibnu Arabi cenderung dicurigai oleh para agamawan eksoteris dan para penguasa. Para sultan Mohad (Muwahidun) dan Morabit (Murabithun) mengkhawatirkan pengaruh Ibnu Arabi kepada para pengikutnya berakumulasi menjadi kekuatan politik. Para agamawan bermazhab Maliki di Barat tidak toleran kepada aliran pemikiran baru, sampai batas pembakaran buku-buku al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Sementara Timur saat itu, meskipun tidak semua, secara umum cenderung lebih terbuka pada ide-ide dan gerakan-gerakan baru. Oleh karena itu, Ibnu Arabi meninggalkan Barat dan mengembara lalu menetap di Timur.

Tahun 598 H / 1201 M, Ibnu Arabi berada di Mekkah berjumpa dengan beberapa orang mulia. Salah satunya Abu Suja’ Zahir bin Rustum bin Abu ar-Raja’ ar-Raja’ al-Isfahani, saudarinya yang bernama Fakhrunnisa’ binti Rustum dan putrinya an-Nizham binti Abu Suja’ Zahir bin Rustum. Abu Suja’ Zahir adalah syekh baik yang mengajari Ibnu Arabi kitab hadis karya at-Tarmidzi. Fakhrunnisa’ adalah perawi hadis yang memberi Ibnu Arabi ijazah periwayatan darinya. An-Nizham adalah gadis yang menarik secara lahir maupun batin, sehingga Ibnu Arabi menjadikannya simbol kebijaksanaan abadi di buku Tarjuman al-Asywaq yang ditulis tahun 598 H.
Sampai tahun 600 H, Ibnu Arabi masih berada di Mekkah dan mengarang beberapa kitab. Menurut Osman Yahya, kitab yang dikarang Ibnu Arabi di Mekkah tahun 600 H adalah kitab Ruh al-Quds dan Taj ar-Rasail. Menurut Riyadl Abdullah, Ibnu Arabi mengarang tiga kitab selain Tarjuman al-Asywaq selama di Mekkah, yaitu Misykat al-Anwar fi Ma Ruwiya ‘an an-Nabi min al-Akhbar, Huliyah al-Abdal dan ad-Durrah al-Fakhirah. Pada bulan Rabiul Awal tahun 600 H, Ibnu Arabi yang masih di Mekkah, mensyarah syair-syairnya di buku Tarjuman al-Aswaq, untuk dipahami oleh murid-muridnya.
Bulan Safar tahun 601 H / 1204 M, Ibnu Arabi pergi ke Baghdad untuk urusan rohani. Tanggal 7 Rajab di tahun yang sama, Ibnu Arabi bekelana ke Mosul tepatnya ke Masyhad Muhib, untuk menerima jubah Nabi Hidlir dari sufi besar bernama Ali bin Abdillah Jami’. Selanjutnya tanggal 27 Ramadhan 601 H, Ibnu Arabi berada di Malthiyyah bersama sahabatnya yang bernama Muhammad bin Ishaq ar-Rumi, ayah dari sufi terkenal yang bernama Shadruddin al-Qunawi. Di tahun 601 H itu, kitab yang dikarang Ibnu Arabi di Mosul, Irak adalah kitab at-Tanazulat al-Mushilah.
Bulan Syawal tahun 602 H, Ibnu Arabi pergi ke Masjid al-Khalil di al-Jalil untuk merefleksikan rahasia al-Kalimah al-Ibrahimiyah (kalimat Ibrahim) di makam Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub, sambil mengajarkan karyanya di hadapan murid-murid. Kitab yang dihasilkan Ibnu Arabi di tahun 602 H di al-Khalil adalah kitab al-Yaqin.
Tanggal 19 Sya’ban 603 H, Ibnu Arabi berada di Mesir, tepatnya di Harah al-Qindil, Kairo, guna berkumpul dengan para sufi. Namun, fukaha (ahli hukum Islam-ket) Mesir kurang bersahabat. Mereka menuduh Ibnu Arabi menyebarkan bid’ah dan menuntut pemenggalan kepalanya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Ibnu Arabi sempat dipenjara, lalu dibebaskan oleh Ali bin Fatah al-Baja’i. Riwayat lain menyetakan bahwa pembebas Ibnu Arabi adalah Malik Adil, Sultan Saifuddin Abu Bakar Muhammad bin al-Amir Najmuddin al-Tikriti ad-Dimasyqi yang kemudian menjadi muridnya. Kepada Malik Adil tersebut Ibnu Arabi memberi ijazah silsilah ilmunya berikut para gurunya. Sedikitnya guru Ibnu Arabi yang tersebut di situ ada 70 orang.
Tahun 604 H / 1207 M, Ibnu Arabi kembali ke Mekkah dan tinggal di sana selama tiga tahun. Di Mekkah, Ibnu Arabi belajar hadis kepada Abu Zahir Rustum al-Isfahani. Selain belajar, selama di Mekkah, Ibnu Arabi juga mengarang kitab Masyahid al-Asrar dan kitab Risalah al-Anwar fi Ma Yamnahu Shahib al-Khalwah min al-Asrar. Tahun 606 H, Ibnu Arabi sempat ke Aleppo. Di sana Ibnu Arabi mengarang kitab at-Tajalliyat.
Tahun 607 H / 1210 M, Ibnu Arabi pergi ke Turki dan Armenia. Di Turki, Ibnu Arabi berada di Anatolia, Kapadokia, Malatya, Sivas, dan Diyarbakir. Di Armenia, Ibnu Arabi berada di Arzen. Saat di Turki, Ibnu Arabi berjumpa dengan Bani Saljuk dan memiliki murid setia bernama Shadruddin al-Qunyawi, hingga menikah dengan ibu muridnya itu.
Tahun 608 H / 1211 M, Ibnu Arabi pergi ke Baghdad berjumpa dengan sufi terkenal Syihabuddin Umar as-Suhrawardi. Usai pertemuan sekitar satu jam, mereka berpisah dan masing-masing diminta berkomentar tentang rekan dialognya. Ibnu Arabi menyebut Suhrawardi “dari ujung rambut hingga ujung kakinya penuh Sunnah”. Suhrawardi menyebut Ibnu Arabi “lautan hakikat”.
Tahun 611 H / 1214 M, Ibnu Arabi hendak kembali ke Mekkah, tapi mendapatkan sambutan kurang baik dari para fukaha’ Mekkah sehingga mengurungkan niatnya menetap di Mekkah. Meski demikian, Ibnu Arabi sempat menulis syarah atas buku Tarjuman al-Asywaq-nya yang dianggap kontroversial. Syarah tersebut diberi judul Dzakhair al-A’laq Syarh Tarjuman al-Asywaq.
Memasuki masa senja, Ibnu Arabi berupaya mencari tempat yang nyaman utuk menghabiskan sisa hidup. Baginya, tempat tersebut adalah Damaskus. Ibnu Arabi mulai menetap di Damaskus tahun 620 H saat berumur 60 tahun. Selama di Damaskus, Ibnu Arabi menyelesaikan beberap kitab: Futuhat al-Makkiyah, Fushush al Hikam (627 H), Diwan (628 H), Washaya Yusufiyyah, Mafatih al-Ghaib, Kunhu Ma La Budda Minhu li al-Murid, Masyahid al-Asrar al-Qudsiyyah, at-Tanzilah al Muwashalah, Taj ar-Rasail, Syajarah al-Kawn, Tafsir Asy-Syakh al-Akbar, Tuhfah as-Safar, al-Amr al-Muhkam, Muhadlarah al-Abrar.
Ketika sedang menulis tafsir al-Quran yang berjudul al-Jam’u wa at-Tafshil fi Asrar Ma’ani at-Tanzil, yang setebal 60 jilid, tepatnya di ayat ke-65 surat al-Kahfi yang berbunyi “wa ‘allamnahu min ladunna ‘ilman” (Kami mengajarinya ilmu dari Kami), Ibnu Arabi mengembuskan nafas terakhir. Waktu itu, malam Jumat, tanggal 28 Rabiuts Tsani 638 H / 16 November 1240 M. Tempatnya di rumah Qadli Muhyiddin bin Az-Zanki di Damaskus. Jenazah Ibnu Arabi kemudian dikubur di makam pribadi keluarga Qadli Muhyiddin bin Az-Zanki di Bukit Qasiyun, Damaskus, Suriah, dimana di situ juga dua putra Ibnu Arabi dikebumikan, yaitu Sa’duddin dan ‘Imaduddin.

Perjalanan Ibnu Arabi ternyata tidak sebatas perjalanan fisik saja, tapi juga perjalanan spiritual. Ibnu Arabi mengaku bahwa bulan Muharram 579 H merupakan awal perjalanan spiritualnya secara non fisik. Menurutnya, saat itu, dia mencapai tingkatan Nabi Hidlir, yaitu tingkatan di antara shiddiqiyah (kepercayaan ala Abu Bakar asd-Shiddiq) dan nubuwah (tingkatan kenabian Nabi Muahmmad saw). Selanjutnya Ibnu Arabi mengalami berbagai maqam (tingkat spiritual).
Tahun 593 H di Fez, Ibnu Arabi mencapai maqam nur (tingkatan cahaya) dan menjadi Quthub Waqt (wali poros waktu). Masih di Fez, tahun 594 H, Ibnu Arabi mendapatkan ilmu Ilahi dan menjadi Khatam al-Wilayah Muhammadiyah (wali terakhir pengikut Nabi Muhammad). Di tahun berikutnya, yaitu 595 H, di Murcia, Ibnu Arabi menyaksikan Tuhan di batinnya (sir) dan menyuruhnya menyampaikan petunjuk Tuhan kepada umat manusia. Ketika Ibnu Arabi berada di Maroko, tahun 597 H, Ibnu Arabi mencapai maqam qurbah (dekat dengan Tuhan).
Dalam menempuh tingkatan-tingkatan spiritual itu, Ibnu Arabi menyatakan kerap mendapatkan penyingkapan spiritual (fath). Awalnya, penyingkapan Isa, lalu penyingkapan Musa, lalu penyingkapan Hud, kemiudian penyingkapan seluruh nabi, lalu penyingkapan Muhammad. Penyingkapan itu diakui Ibnu Arabi memungkinkannya melihat para nabi, semisal Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Hud, dan Nabi Muhammad, baik secara sadar (terjaga) maupun tidak sadar (tidur).
Penyingkapan-penyingkapan spiritual yang diperoleh Ibnu Arabi itu seiring sejalan dengan akhlak mulia yang ditampakkannya dan keramat-keramat yang diterimanya. Sebagian dari akhlak mulia Ibnu Arabi yang tercatat ialah:
- Ibnu Arabi diberi hadiah rumah oleh penguasa Romawi, seharga 100 ribu dirham. Namun Ibnu Arabi menyerahkan rumah itu kepada peminta-minta, karena Ibnu Arabi tidak punya apa-apa selain rumah itu ketika sang pengemis meminta sedekah.
- Saat di Damaskus, Ibnu Arabi diberi banyak uang semisal oleh Qadli bin Az-Zanki sebanyak 30 dirham tiap hari dan oleh Shahib Hamash sebanyak 100 dirham setiap hari. Namun, Ibnu Arabi menyedekahkan semua uang yang diterimanya.
- Ketika dihina, Ibnu Arabi sama sekali tidak marah, sebab penghina mengatakan suatu hinaan, sementara Ibnu Arabi tidak merasa memiliki hal-hal yang dihinakan kepadanya itu.
Adapun sebagian dari karamah Ibnu Arabi yang tercatat adalah:
- Mampu berjumpa dengan roh para nabi yang dikehendakinya
- Lembaran kitab al-Futuhat al-Makkiyyah yang dibuatnya tidak rusak oleh angin dan hujan meskipun dibiarkan selama setahun di atas Ka’bah tanpa ditutupi
- Pembenci Ibnu Arabi yang hendak membakar kotak penyimpan barang-barang Ibnu Arabi terjeblos ke dalam tanah sebelum berhasil menyentuh dan membakar barang-barang Ibnu Arabi itu
Kebencian pada Ibnu Arabi semacam itu kerap disulut oleh para fukaha dan orang-orang yang memandang agama secara lahiriah saja. Sejak Ibnu Arabi berkiprah di dunia intelektual hingga jauh setelah Ibnu Arabi wafat, banyak orang yang mengkritik Ibnu Arabi. Kritikus Ibnu Arabi yang pertama adalah ahli fikih bernama Jamaluddin bin al-Khayath al-Yamani di kitab al-Masail. Selain al-Khayath al-Yamani, sedikitnya ada dua puluh satu pengarang buku kritik penih kebencian pada Ibnu Arabi yang dicatat oleh Osman Yahya (Histoire et Classification, halaman 114-117).
Para pembenci Ibnu Arabi tak sekadar mengarang buku, tetapi juga mengeluarkan fatwa. Sedikitnya ada 137 mufti yang telah menyerang Ibnu Arabi, sebagaimana dicatat oleh Osman Yahya (Histoire et Classification, halaman 122-132). Para mufti penyerang Ibnu Arabi itu antara lain Ibnu Shalah (w. 643 H), Ibnu Taimiyah (w. 728 H), Ibnu Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H) dan Burhanuddin al-Biqa’i (w. 885 H).
Meski mendapatkan kritik tajam dari orang-orang eksoteris (lahiriah), Ibnu Arabi tetap memiliki banyak pendukung. Osman Amin mencatat sedikitnya ada 27 mufti yang membela Ibnu Arabi (Histoire et Classification, halaman 133-135).
Data tentang pendukung dan penentang Ibnu Arabi di atas menunjukkan bahwa pro-kontra tentang pemikiran Ibnu Arabi belangsung berabad-abad dan melibatkan banyak orang . Untuk menilai seperti apa Ibnu Arabi, pembacaan atas karya Ibnu Arabi saja tidak cukup. Perlu juga testimoni dari orang -orang yang berinteraksi langsung dengan Ibnu Arabi, baik orang itu dari kalangan eksoteris (ahli fikih) maupun dari kalangan esoteris (ahli tasawuf-falsafi).
Pakar fikih di zaman Ibnu Arabi yang bisa dipertimbangkan pendapatnya ialah Syamsudin al-Khazraji dan Izzuddin bin Abdussalam. Sementara pakar tasawuf-falsafi saat itu yang perlu dipertimbangkan pendapatnya ialah bin Atahailah al-Iskarani dan Suhawardi. Syamsuddin al-Khazraji adalah hakim agung (qadli qudlat) mazhab Syafi’i di masa Ibnu Arabi hidup. Meski berkedudukan sedemikian tinggi dalam ilmu fikih dan pemerintahan, Syamusddin al-Khazraji berkhidmat kepada Ibnu Arabi laksana hamba. Izzuddin bin Abdussalam adalah pemimpin para ulama fikih di masanya. Pada awalnya Izzuddin berfatwa bahwa Ibnu Arabi adalah seorang zindik. Namun Izzuddin berubah pandangan dan menyebut Ibnu Arabi sebagai wali kutub yang istimewa setelah Izzuddin mengetahui secara langsung kehidupan dan pemikiran Ibnu Arabi.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari adalah pengarang kitab al-Hikam, yang termasyur hingga sekarang. Di kitab Ghayah al-Mu’taqid wa Nihayah al-Muntaqid, Ibnu Athaillah secara eksplisit memuji Ibnu Arabi. Suhrawardi adalah filsuf sufi penggagas falsafah iluminasi (hikmah al-isyraq). Mengenai Ibnu Arabi, Suhrawardi bersaksi bahwa Ibnu Arabi adalah orang yang sempurna dan mendalam ilmunya serta memiliki banyak keramat. Testimoni orang-orang penting di bidang eksoteris dan esoteris di masa Ibnu Arabi itu cukup menjadi pertimbangan untuk memberi apresiasi positif kepada Ibnu Arabi.
Orang-orang yang mengenal pribadi dan/atau pemikiran Ibnu Arabi dengan baik, memberi julukan agung untuk Ibnu Arabi, yang ber-kunyah (nama yang dikaitkan dengan anak/ayah) Abu Bakar. Suhrawardi menjuluki Ibnu Arabi dengan al-Bahr az-Zakhir (lautan yang meluap) dan Bahr al-Haqaiq (lautan hakikat kebenaran). Para filsuf dan sufi menyebut Ibnu Arabi dengan sebutan Ibnu Aflatun (putra Plato), karena kebijaksanaannya yang idealis. Namun, julukan yang paling sering dijadikan panggilan untuknya ialah “Asy-Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi”. “Asy-Syekh al-Akbar” berarti guru terbesar. Sebutan itu diberikan oleh para filsuf, sufi dan sejarawan karena keagungan dan kemasyhurannya sebagai puncak intelektual di bidang tasawuf-falsafi, seiring dengan keluasan dan kedalaman pengetahuannya tentang bidang tersebut hingga terus dikaji sepanjang masa.
Julukan itu khusus untuknya. Sementara sebagai “Muhyiddin”, yang berarti tokoh yang menghidupkan agama, masih disematkan pada tokoh lain, contohnya Qadli Az-Zanki, yang menguburkannya, juga disebut dengan Muhyiddin. Sebutan “Ibnu Arabi” juga masih disematkan pada tokoh lain, yaitu seorang hakim di Sevilla. Hanya saja, hakim di Sevilla itu disebut oleh Ibnu al-Arabi dengan “Al”. Nama lengkapnya al-Qadli Abu Bakar bin al-Arabi al-Ma’afiri. Adapun tokoh yang kita bahas ini disebut tanpa “Al”, yaitu Abu Bakar Ibnu Arabi al-Hatimi ath-Tha’i.
Pembedaan sedemikian rupa tidak hanya disebabkan antisipasi atas kerancuan tetapi juga untuk menunjukkan bahwa hakim Sevilla tesebut adalah tokoh eksetoris (lahir) yang cenderung pada sisi lahiriah syariat, sehingga disebut secara definitif (dengan menggunakan “Al”). Sementara Ays-Syekh al-AKbar Muyiddin Ibnu Arabi merupakan tokoh esoteris (batin), yang cenderung pada sisi batin syariat, hakikat syariat yang tidak diketahui oleh orang awam sehingga dipanggil secara indefinitif (tanpa “Al”).***infokito
Wallahua’lam
***disadur dari buku Kitab Syajarah al-Kawn Ibnu Arabi Mengungkap Konsep Alam Semesta dan Sirah Nabi; Zainul Maarif; Turos; halaman 2-20

Referensi lain Ibnu Arabi di laman wikipedia


















Tinggalkan Balasan