Seorang menteri dari Maroko berulah hingga mendapat tentangan keras dari media massa dan masyarakat karena menganjurkan larangan Azan untuk shalat Subuh dengan alasan agar tidak mengganggu para turis.
“Mengapa Menteri Pembangunan Sosial, Keluarga, dan Solidaritas, Nouzha Skalli begitu terganggu dengan azan? Apakah ia pernah mendengar seorang warga Maroko mengeluhkan suara azan? Apakah ia punya bukti kalau para turis terganggu dengan suara itu?” demikian isi berita di surat kabar Attajdid.
Skalli adalah anggota Partai Sosialis Progresif yang memiliki 17 kursi di parlemen dan dua menteri. Dalam pertemuan pekan lalu, ia menyebutkan bahwa seruan azan Subuh semestinya dilarang agar tidak mengganggu para turis.
Menurut Skalli, seruan azan berlangsung cukup lama di beberapa daerah tertentu sehingga mengganggu para turis. Ia meminta Menteri Urusan Habous dan Islam, Ahmed Toufiq untuk membuat justifikasi agama atas larangan itu. Sayangnya, Skalli tidak dapat membedakan antara azan dan tradisi yang sudah berlangsung lama di Maroko yang berduyun-duyun pergi ke masjid untuk salat Subuh.
Ulah Skalli yang lain juga memicu protes karena menerima undangan Denmark untuk menghadiri konferensi wanita setelah Denmark mempublikasi kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Media massa Maroko menyesalkan ulah Skalli itu. Ia semestinya menolak undangan itu sebagai protes atas penerbitan ulang kartun yang menghina Rasullulah. [iol/www.hidayatullah.com]


















Tinggalkan Balasan