infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Suvenir Visit Musi Diimpor dari CHINA

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Kesiapan Pemkot Palembang menyambut program Visit Musi 2008 benar-benar tidak maksimal. Bahkan, untuk menggelar acara bertaraf internasional tersebut, Pemkot Palembang terkesan tidak percaya diri.Bagaimana tidak, untuk suvenir Visit Musi 2008 saja harus diimpor dari China. Padahal, kualitas suvenir impor tersebut tidak menjamin lebih baik dari hasil karya perajin lokal. Suvenir impor itu berupa plakat berbentuk persegi panjang yang bergambarkan Jembatan Ampera dengan suasana Sungai Musi yang khas. 

Kebijakan impor tersebut dinilai sejumlah kalangan sebagai tindakan gegabah dan tidak memberdayakan pengusaha kerajinan lokal yang ada. Tidak diketahui berapa nilai satu unit plakat tersebut.

Namun, menurut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Kota Palembang Apriadi S Busri, jika dirupiahkan harga satu unit plakat tersebut berkisar Rp125.000. ”Pemkot Palembang berencana mengimpor plakat sebanyak 200 unit lagi, guna menambah 200 unit suvenir yang sudah diterima Pemkot Palembang sebelumnya,” ujar Apriyadi di Palembang, Selasa (4/12) kemarin. Menurut Apriyadi, nilai impor plakat tersebut tidak seberapa dan tidak mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, jika dikalkulasikan nilai impor tersebut mencapai Rp50 juta lebih, belum ditambah biaya pesan dan ongkos kirim. ”Suvenir jenis ini sengaja dipesan untuk diberikan kepada tamu istimewa pada saat Visit Musi nanti,” ujarnya.

Apriyadi menambahkan, dalam melakukan impor suvenir tersebut, Pemkot tidak menggunakan APBD Kota Palembang melainkan menggunakan anggaran pribadi Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra. Menurut dia, pemesanan suvenir dari China tersebut dilatarbelakangi ketidakmampuan perajin lokal dalam memproduksi suvenir. Menurut Apriyadi, di tingkat lokal belum ada perajin yang mampu memproduksi suvenir seindah dari China.

”Suvenir lokal tidak mengesankan khas kedaerahan. Kita sangat memerlukan sebuah suvenir yang dapat menjadi kenangan bagi orang yang menerima,” katanya. Apriyadi menjelaskan, Pemkot Palembang menginginkan sebuah suvenir yang dapat menyegarkan ingatan tamu akan Palembang ketika tamu tersebut berada di daerah asalnya. Apriyadi menyebutkan, walaupun Pemkot memesan suvenir dari China, namun suvenir lokal tetap diberdayakan. Suvenir lokal hanya digunakan untuk tamu biasa dan hanya bersifat suvenir biasa.

Menurut pantauan SINDO, suvenir impor tersebut terbuat dari batu alam yang berukuran kurang lebih 10 x 20 sentimeter. Pada plakat tersebut bergambar Jembatan Ampera dan memiliki latar suasana Sungai Musi yang difoto dari udara.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Koordinator Produksi Musi Tourism Board Gatmir Senin mengatakan, kebijakan Pemkot tersebut merupakan bukti kedangkalan wawasan para aparat di lingkungan Pemkot Palembang.

Pasalnya, jika Pemkot memiliki niat membimbing dan memberikan pendampingan kepada perajin lokal, dia yakin Palembang tidak perlu mengimpor suvenir dari China. ”Ini adalah bentuk ketidakmampuan bawahan wali kota. Jika bawahannya mampu membimbing perajin lokal dan juga mampu menjelaskan kepada wali kota mengenai keuntungan memanfaatkan perajin lokal, maka hal ini tidak akan terjadi,” katanya.

Sebenarnya, terang Gatmir, di Kota Palembang ini sangat banyak tenaga lokal yang kreatif dan mampu memproduksi suvenir khas daerah. Namun, karena keterbatasan modal sehingga keterampilan tersebut seperti tidak diberdayakan.

Pemilik Galeri dan Museum Mir Senen ini menjelaskan, tindakan Pemkot Palembang mengimpor suvenir tersebut menunjukkan ketidakpercayaan pemerintah terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimiliki perajin lokal.

”Jangan-jangan ada rasa kecemburuan dari aparat, jika menggunakan perajin lokal, maka mereka (aparat) tidak dapat menikmati anggaran untuk suvenir itu,”katanya. Lebih lanjut, Gatmir mengungkapkan, kebijakan impor suvenir dari China merupakan pemborosan. Karena ketika program Visit Musi selesai, tidak ada kelanjutan manfaat dari pengadaan suvenir itu. Sangat berbeda jika pemerintah memberdayakan perajin lokal, maka mereka akan memiliki pengetahuan baru. (berli zulkanedi/CR-12/sindo)

•••

22 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

5 responses to “Suvenir Visit Musi Diimpor dari CHINA”

  1. Avatar Herman
    Herman

    Seharusnya Pemkot mengerahkan semua pengrajin lokal untuk membuat suvenir khas Palembang. Masakan mau mempromosikan daerah sendiri, tapi juga “mempromosikan” produk luar. Masih mending luar Sumsel, tapi ini yang tak masuk akal, produk luar negeri. Bagaimana respons tamu istimewa tersebut, kalau mereka tahu bahwa suvenir yang diberikan gratis kepada mereka, ternyata suvenir impor dari China? Apa Pemkot tak memperhitungkan ini? Apa Pemkot akan menjawab bahwa pengrajin lokal tak mampu membuat suvenir khas daerah sendiri, kalau para tamu istimewa tersebut bertanya, kenapa harus diimpor dan apa Palembang tak punya pengrajin atau pengrajin Palembang tidur semua?

  2. Avatar Nayel

    Di Tanjung Batu (OI)ada perajin emas dan perak, ada juga pengukir tanduk sapi, kerbau, kenapa tidak di manfaatkan.

  3. Avatar tabutio

    tentunya smua itu ada tandatanya? knapa pemkot palembang harus mengimpor barang souvenir dari luar sedangkan dari lokal lebih bagus
    dari karya luar? cobakah perhitungkan lagi namanya visit musi
    harus melibatkan pihak lokal bukan pihak pribadi yang ingi mendapatkan keuntungan pribadi……?
    terimoh kasih

  4. Avatar weks
    weks

    BENER2 BIKIN MALU!!!

  5. Avatar ss
    ss

    bpk. apriadi s busry yth..maaf, pake anggaran pribadi??? jgn suka cari muka u jd bumper ah!! ga asik d..hr gini msh nipu aja…

Tinggalkan Balasan ke weksBatalkan balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca