Bangka Belitung merupakan pemain utama dalam percaturan timah dunia. Perubahan regulasi pemerintah di “ladang” timah itu pasti menyebabkan harga naik tak terkendali. Kebijakan penataan pertambangan timah diikuti dengan pengetatan perdagangan bijih maupun balok timah menyebabkan keseimbangan permintaan dan penawaran timah jadi terganggu.
Sebelum dipicu aksi demonstrasi besar-besaran yang berakhir dengan pengrusakan kantor Pemprov Bangka Belitung, 5 Oktober 2006 lalu, harga yang sebelumnya 7.800 dolar AS per metrik ton, melonjak hingga 14.300 dolar AS.
Dampak dari kebijakan itu, industri pemurnian bijih timah (smelter) di dalam negeri goncang dan imbasnya juga dirasakan oleh Singapura Tin Industri (STI), smelter yang dimiliki negara jiran. Direktur STI, Petrus Chandra, mengatakan, dengan gonjang-ganjing itu, Singapura langsung merevisi target produksi pemurnian balok timah dari 36 ribu ton pertahun jadi 18 ribu ton pertahun atau 1.500 ton per bulan. “Saya kira tidak hanya Singapura, tapi seluruh dunia kekurangan bahan baku sejak penertiban tambang timah di Bangka,” ujar Petrus, ketika menghadiri pembakaran perdana tungku api (Furnace) PT Bangka Global Mandiri Internasional (BGMI) di Sungai Liat Bangka, beberapa waktu lalu. Manajemen STI baru mendapatkan pasokan balok timah setelah Mei dan Juni 2007.
Untung bagi mereka, pasokan bahan baku untuk industri pemurnian bijih timah di Singapura tidak hanya dari Indonesia, melainkan juga dari Vietnam dan Myanmar. Melihat sulitnya mendapatkan bahan baku, satu-satunya industri pemurnian timah Singapura itu, terpaksa menekan target produksi.
Singapura menggunakan balok timah dari Indonesia untuk dimurnikan kembali menjadi 99,95 hingga 99,99 persen. Balok Timah asal Indonesia diekspor dengan kadar 99,85 persen sesuai standar dari London Metal Exchange (LME), pasar tempat transaksi timah dunia selain Kuala Lumpur Tin Market (KLTM).
Balok timah asal Indonesia setelah dimurnikan digunakan lagi untuk industri hilir di Singapura selain ekspor. Kemampuan pemurnian sangat besar dan di atas target konservatif 18 ribu ton per tahun. Singapura memproduksi timah untuk industri “tin chemical”, stabilizer, oxide dan lainnya. Pasar untuk industri di dalam negeri, Singapura hanya 500 ton balok timah murni per tahun. Lainnya diekspor.
Petrus menegaskan, di Indonesia, balok timah lebih banyak digunakan untuk industri otomotif seperti memasok timah untuk merangkai komponen bagi produsen mobil merek Toyota, Honda dan sebagainya. Sementara Singapura lebih banyak bermain untuk keperluan timah bagi industri kimia. Menyadari pentingnya ketersediaan pasokan bijih dan balok timah dari Bangka, manajemen STI mengubah pola dari sebelumnya hanya secara pasif menjadi ikut terlibat langsung dalam proses pengolahan dan pemurnian bijih timah.
Dalam bidang pertimahan, Petrus menilai Bangka merupakan tempat terbaik untuk berinvestasi dan ikut menanam modal di BGMI dengan investasi keseluruhan bersama Yunan Tin (BUMN) asal Cina. Ratusan miliar rupiah dana digelontorkan untuk mencapai ambisi agar ketersediaan balok timah baik untuk industri di dalam negeri maupun ekspor negaranya bisa tercukupi.
Melalui BGMI, STI kini menjadi pemain utama dalam pengolahan tailing ataupun slag timah yang selanjutnya diolah menjadi balok timah kualitas ekspor. Tailing yang biasanya dengan kadar Sn rendah berkisar 30 persen dan slag tiga persen sebelumnya menjadi residu tak berguna. Kini ditangan STI dan Yunan Tin dengan teknologi tinggi dan pembakaran hingga 1.200 derajat celcius, diolah menjadi balok timah, dengan residu hanya 0,02 persen saja.
Sisa pengolahan timah yang selama ini cenderung menjadi limbah, bahkan dituding sebagai bahan berbahaya beracun (B3) dengan kandungan radio aktif, kini tidak lagi menjadi momok menakutkan. Ia telah menjadi sumber bahan baku yang bisa didapat dengan harga teramat murah.
Dalam memperkuat cengkeraman kukunya di Bangka STI nantinya akan terus meningkatkan penyertaan modal untuk mengembangkan industri hulu di Bangka seperti tin ball, tin sheet, tin chemical, pure tin four nine dan lead free solder wire. Menyadari pentingnya ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang, kini Singapura dan perusahaan lain di Bangka akan membentuk semacam konsorsium dengan nama Bangka Belitung Timah Internasional (BBTI).
Pascapenataan dan penertiban tambang timah oleh pemerintah akhir 2006, beberapa perusahaan timah di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, kesulitan bahan baku. Pasokan memang langsung seret.
Tentang hal itu, Thobrani Alwi, mengatakan, negara tetangga sebagian mendapatkan pasokan bahan baku dan balok timah dari Bangka. Adanya ketentuan perdagangan bijih timah antar pulau dengan persyaratan yang teramat ketat, sebagaimana tertuang dalam SK Mendag No 19/2007 dan ekspor hanya boleh dilakukan oleh perusahaaan yang mengantongi izin selaku Eksportir Terdaftar (ET) dari Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan, menyebabkan industri timah di negara tetangga menjerit kekurangan bahan baku.
Tetapi hal itu juga ada baiknya bagi Indonesia. Dengan banyaknya timah dari Bangka yang lari ke luar negeri, mengakibatkan stok pasar sebenarnya susah diprediksi. Selain itu, negara lain yang secara kelayakan tidak pantas membangun pabrik timah bermerek, malah berani membangun industri itu karena yakin mendapat pasokan dari Indonesia.
Persoalannya kini, mampukah Indonesia membesarkan keuntungan lebih dari sekadar penjual timah? padahal, dalam pandangan Thobrani, Bangka bukanlah pulau penghasil timah, tapi timah yang berbentuk pulau. Artinya, dalam beberapa dekade ke depan, Bangka tetap akan memasok timah dunia. Tinggal bagaimana Indonesia menata manajemennya, sehingga keuntungan tidak hanya didapat dari semata balok timah, melainkan dari penataan dan perdagangan timah itu sendiri. (ant/rep)


















Tinggalkan Balasan