infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Masjid Arab, Saksi Bisu Kebaikan Utsmani untuk Para Pengungsi

Indeks • Download • Galeri • Promosi • Pranala • Cari

Kekhalifahan Turki Utsmaniyah berdiri sekira enam abad lamanya. Kerajaan Islam yang dirintis Osman Ghazi itu semakin berjaya sejak berhasil menaklukkan Romawi Timur (Bizantium) pada 1453 M. Konstantinopel–kota yang kini merupakan Istanbul–pun menjadi pusat kekuasaannya, menggantikan ibu kota lama, Edirne.

Menara Masjid Arab di Istanbul, Turki. Sewaktu bangunan ini belum merupakan sebuah masjid pada era Sultan Mehmed al-Fatih, menara itu merupakan tempat lonceng gereja. | DOK WIKIPEDIA

Menurut Ken Dark dan Ferudun Ozgumus dalam Constantinople: Archaeology of A Byzantine Megapolis, Konstantinopel beberapa tahun usai penaklukan yang dilakukan Sultan Mehmed II al-Fatih mengalami perubahan demografis. Banyak orang Kristen lokal yang memutuskan untuk hijrah ke luar. Lahan yang ditinggalkan mereka kemudian dihuni komunitas Kristen dari Yunani. Di samping itu, tentunya kaum Muslimin, khususnya dari kelompok etnis Turki.

Sejak saat itu, beberapa gereja menjadi kosong atau tidak lagi didatangi jamaat sebanyak dahulu. Sebuah tempat ibadah Nasrani di Distrik Karakoy, Konstantinopel, mengalami hal serupa. Pada akhirnya, bangunan tersebut menjadi sebuah masjid yang bernama Masjid Arab.

Lokasi Google Map Arap Camii

Bagaimanapun, kompleks peribadahan itu tidak seketika menjadi milik Muslim begitu Mehmed al-Fatih menguasai Konstantinopel. Gereja yang didedikasikan untuk Santo Agape, Chionia, dan Irene tersebut sempat bertahan selama 22 tahun sejak jatuhnya Bizantium. Barulah pada 1475 M, kesultanan Turki mengambil alih bangunan yang berdiri sejak abad keenam itu.

Ceritanya bermula dari kapitulasi Turki Utsmaniyah dengan Republik Genoa, sebuah negeri di pesisir Laut Liguria, Italia. Pada abad ke-15, gereja yang bernama Mesa Domenico itu diakui sebagai milik Genoa. Namun, antara tahun 1475 dan 1478, pengakuan itu dimodifikasi sedikit.
Sebab, Sultan Mehmed al-Fatih tertarik untuk menjadikannya sebuah masjid. Terlebih lagi, komunitas Kristen setempat tidak keberatan menukar lokasi tempat ibadahnya ke Galata. Maka di kawasan yang berseberangan dengan ujung Tanduk Emas, Konstantinopel, itu sang sultan membangun sebuah biara pada 1476.

Hingga tahun 1480-an, konversi Gereja Mesa Domenico tuntas dilakukan. Umat Nasrani memiliki tempat ibadah baru di Galata. Para biarawan hijrah ke sana, sedangkan semua ornamen altar dibawa ke Republik Genoa. Adapun kaum Muslimin Istanbul bersyukur karena mendapatkan masjid hasil negosiasi sang sultan.

Sampai saat itu, tempat ibadah Islam tersebut dinamakan Masjid Galata (Galata Camii). Hingga datanglah sebuah kabar yang mengejutkan dari arah barat. Di Andalusia (Spanyol), kekejaman raja-raja Kristen semakin menggila. Puncaknya, pada 1492 M, Granada sebagai satu-satunya negeri Islam yang tersisa di Semenanjung Iberia tidak kuasa menahan serbuan musuh.

Itulah klimaks dari fenomena Reconquista atau ‘penaklukan kembali’. Imbasnya, kaum Muslimin Andalusia menjadi target buruan. Begitu pula dengan komunitas Yahudi setempat. Mereka dipaksa memilih: pindah agama atau hilang nyawa.

Mendengar kabar tersebut, pemimpin Turki Utsmaniyah kala itu, Sultan Bayezid II, memerintahkan jajarannya untuk segera mengirimkan bantuan. Maka berangkatlah kapal-kapal berbendera Turki dari Maroko. Armada itu mengangkut ratusan ribu pengungsi, baik kalangan Muslim maupun Yahudi, dari Andalusia.

Sebagian orang yang mengungsi itu tiba di Istanbul. Sultan Bayezid II menerima mereka dengan tangan terbuka. Beberapa area kemudian dibuka untuk permukiman para pengungsi. Inilah salah satu fase sejarah yang membuktikan kebaikan hati Turki Utsmani kepada pendatang, termasuk komunitas Yahudi sekalipun.

Adapun kaum Muslimin diberikan suatu kekhususan. Para pengungsi yang umumnya beretnis Arab itu tidak hanya diberikan hunian serta mata pencaharian. Kepada mereka, sang sultan menyerahkan pengelolaan dan kebermanfaatan Masjid Galata. Sejak saat itu, tempat ibadah tersebut lebih populer dengan nama Masjid Arab atau Arap Camii.

Bangunan ini sempat mengalami kerusakan akibat kebakaran. Pada masa Sultan Mehmed III, renovasi dilakukan atas beberapa bagian Masjid Arab. Menjelang akhir abad ke-17, pemerintah
kota setempat membeli sejumlah rumah yang berdempetan dengan tempat ibadah ini, untuk kemudian dirobohkan. Dengan begitu, kebisingan dapat diatasi sehingga tidak mengganggu ibadah jamaah.

Lihat Juga


Corak Arsitektur

Saat masih berfungsi sebuah gereja, bangunan ini menampilkan gaya arsitektur khas Renaisans Italia. Bagian dasar berbentuk persegi yang tersusun tiga lapis. Ujung timurnya berupa bujur sangkar dengan kubah berusuk. Sejak menjadi masjid, kompleks tersebut mengalami beberapa perubahan minor pada tampilannya. Masjid Arab pada 1735 direnovasi atas usulan ibunda Sultan Mahmud I. Di antara bagian-bagian yang diubah adalah jendela. Dari yang semula bergaya Gothik ke corak khas Utsmaniyah.

Pada 1808, kebakaran melanda Masjid Arab. Putri Mahmud II, Adile, lantas menginisiasi renovasi kembali bangunan tersebut. Ia menambahkan sebuah kolam pancuran sebagai sumber air wudhu untuk jamaah. Fasilitas itu dinamakan adirvan.

Antara tahun 1913 dan 1919, Giridli Hasan Bey secara ekstensif merestorasi bangunan itu lagi. Yang diganti, antara lain, adalah lantai kayu. Dalam prosesnya, tim menemukan beberapa batu nisan Genoa yang diperkirakan ada sejak abad ke-14 atau 15.

Pada awal 2010-an, masjid ini mengalami pemugaran ekstensif, yang selesai pada tahun 2013. Dari semua renovasi itu, tentunya sebagian besar penampakan Masjid Arab tetap dipertahankan. Misalnya, menara masjid yang dahulunya tempat menggantung lonceng gereja.***

***Disadur dari sebuah tulisan di koran digital Republika.id edisi Rabu, 16 Agustus 2023

kembali ke atas | indeks pilihan | download | iklan kecik

10 hit

harga emas • world monitor • almanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137782


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp232.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp111.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect