Setelah melakukan penelitian selama empat tahun, seorang ilmuwan Jepang menemukan spesies nyamuk di kawasan hutan tropis Tanah Tinggi Bario, utara Sarawak, yang diyakini terkecil di dunia. Ukurannya kurang dari satu milimeter.
Dr Ichiro Miyagi (71 tahun), pakar serangga dari Negeri Matahari Terbit itu, bersama kelompok peneliti dari Museum Sarawak, menemukan spesies serangga tersebut yang menjadikan tempurung pohon periuk kera (nama tumbuhan hutan) sebagai habitatnya dan hanya keluar sesekali saja.
Ichiro datang di Kepulauan Borneo empat tahun lalu, melakukan penelitian mengenai serangga jenis topomyia dan bekerjasama dengan Sarawak Forestry Corporation (SFC). Menurut dia, ada hampir 50 jenis serangga dari jenis topomyia di seluruh dunia, namun dua spesies terkecil di dunia dari jenis Topomyia Napenthicola dan Topomyia Lecharlesi hanya dapat ditemukan di kawasan Bario.
”Kedua spesies serangga tersebut ditemukan ketika saya sedang melakukan penelitian di kawasan Bario, dan Topomyia Napenthicola menjadikan tempurung pohon periuk kera sebagai habitatnya. Hal ini sangat mengagumkan, karena nyamuk jarang menjadikan tumbuhan sebagai habitatnya sebab nyamuk memerlukan sumber darah sebagai makanan utamanya,” papar Ichiro akhir pekan lalu.
Penelitian awalnya mendapati bahwa serangga tersebut tidak menghisap darah binatang lain, sebaliknya menjadikan sumber alam yang lain sebagai makanannya. ”Serangga ini hanya hidup dan berkembang biak di tempurung pohon periuk kera tanpa bergantung kepada makhluk lain. Karena ukurannya yang tidak sampai satu milimeter, nyamuk ini adalah nyamuk terkecil di dunia,” klaimnya.
Berbeda dengan spesies topomyia lain, bagian perut Topomiya Napenthicola berwarna perak berkilauan sedangkan spesies lainnya sama seperti nyamuk biasa. ”Saya banyak melakukan penelitian mengenai serangga ini dan sampai saat ini topomyia di Sarawak paling unik dan berbeda dari spesies lain di seluruh dunia,” katanya. [m hifzuddin Ikhsan]


















Tinggalkan Balasan